Catatan Akhir Kuliah – Part 13

“Indah bukan?”. Ujar Alsan saat kami diatas balkon Kafe Senja.
“Indah banget!!!”. Aku sangat terkesima tanpa peduli bagaimana manjanya sikapku sekarang pada Alsan. “Benar-benar melayang diantara bintang”.

Kami memperhatikan pemandangan dari atas balkon dengan secangkir kopi pahit malam ini. Benar-benar indah dengan suasana sendu dan keadaan kafe yang tidak ramai. Kopi pahit malam ini terasa manis dengan pemandangan manis di depan kami sekarang, bertabur bintang dengan cahaya perkotaan dibawah kami. Mungkin kamu lupa caranya tersenyum, aku beri tahu bahwa bentuknya senyum itu seperti bulan sabit di malam hari, indah sekali seperti bulan sabit malam ini.

“Duuh….”. Goda Angel yang baru datang bersama Putri.
Angel dan Putri berdiri di sampingku, Alsan pamit meninggalkan kami bertiga untuk bekerja, sebelum Alsan pergi, Angel meminta dibuatkan coklat panas oleh Alsan.

“Aku seneng banget kalau ke Kafe Senja, pemandangan saat malam cerah begini buat kangen Bali”. Ujar Angel kemudian menghirup udara malam.
“Ngel????”. Teriak Genta di pintu memanggil Angel.
“Kenapa Gen?”.
“Loe buat sendiri minumannya, gimana?”.
“Hish! gimana sih, masak gue yang buat”. Keluh Angel tetapi berjalan menghampiri Genta.

Aku dan Putri hanya tersenyum dan kembali merasakan melayang antara langit dan beribu bintang di depan kami. Kami berdua sibuk membicarakan tentang laut yang berada di bawah sana. Bagaimana jika kita berada di atas laut, apakah mungkin bisa melihat Kafe Senja? Ini terdengar aneh, namun kami membayangkannya diatas kapal. Malam ini aku sedang membuat rencana bersama Alsan untuk mencairkan suasana persahabatan kami yang kacau. Mungkin dengan kumpul bersama, semua pasti baik-baik saja. Tidak ada yang lebih baik selain tetap menjaga silaturahmi dengan baik.

Tiga hari yang lalu…

“Nek, Al ijin ngajak Alamanda keluar malam minggu besok, boleh?”.
Permintaan ijin Alsan pada nenek pagi hari itu cukup membuat suasana tegang, Alsan sedang membantu nenek repotting tanaman. Nenek tampak diam sejenak sembari berpikir lalu berbicara pelan. “Boleh, asal jangan pulang lewat jam 10”.
“Nenek!!!! Terima kasih!!!!”. Teriakku dari jendela kamar cukup mengagetkan nenek dan Alsan. Alsan hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkahku.

Setelah Alsan membantu nenek, kami berangkat menuju rumah Delia untuk mengembalikan jaket sekaligus meminta tolong agar Rico mau datang ke kafe dengan bujukannya. Aku terus menekan bel rumahnya, tapi tak ada tanggapan.
“Gak ada orang mungkin”. Ujar Alsan yang masih duduk diatas motornya saat kami di depan gerbang rumah Delia yang tingginya benar-benar tidak bisa melihat pekarangan rumah.
“Setidaknya pasti ada satpam disini”. Jawabku.

Alsan sibuk dari tadi memainkan ponsel, sedangkan aku masih sibuk menekan bel hingga akhirnya pintu kecil otomatis terbuka. “Tuh kan ada orangnya”. Ujarku senang menatap Alsan, dan Alsan kemudian berdiri dan berjalan duluan masuk rumah.
“Ngeselin banget nih orang, lagi ngomong diabaikan”. Gumamku kemudian mengikuti Alsan berjalan.

Kami memasuki rumah Delia. Rumah Delia sangat besar, terdapat banyak sekali mobil mewah tetapi sayangnya pekarangannya yang luas hanya ditumbuhi rumput gajah tanpa warna warni tanaman hias. Rumah sebesar ini sangat terlihat sepi, kami melewati pos satpam begitu saja. Mungkin Alsan sering kerumah Delia mengingat Delia pacar sahabatnya sendiri.
“Aduhhh!!!”. Aku menabrak punggung Alsan yang tiba-tiba berhenti di teras rumah.
“Kalau jalan liat-liat”. Gumam Alsan yang hanya menengokkan kepalanya ke arahku tanpa membalikkan tubuhnya. Aku hanya mengerucutkan bibir. Pintu rumah depan kemudian terbuka.
“Eh Mas Al”. Ujar seorang wanita muda di balik pintu, jika dilihat sepertinya pembantu rumah tangga.
Alsan masuk begitu saja tanpa permisi dan aku hanya mengikutinya.

“Delia mana mbak?”.
“Di kamar mas, nanti kesini habis renang. Mas sama mbaknya mau minum apa?”.
“Es coklat aja mbak”.
“Baik mas saya buatin dulu”.

Alsan kemudian menyuruhku duduk disampingnya. Ruang tamunya saja sebesar rumahku. Aku pikir bisa berlarian disini. Perabotan rumah penuh terbuat kaca, anak kecil pasti tidak bisa bebas bermain disini walau tempatnya luas.
“Kenapa?”. Tanya Alsan menatapku.
“Rumahnya besar sekali”.
“Nanti kamu juga punya rumah sebesar ini”.
“Enggak pingin Al”.
“Kenapa?”.
“Aku lebih baik punya taman bunga yang luas daripada rumah besar”.
“Bagus deh, sekalian jadi tempat wisata malah ngasilin duit”.
“Itu buat pribadi tauk”.
“Apa enaknya dinikmati sendiri?”.
“Kata siapa sendiri, sama suami dan anak-anak dong”.
Alsan menatapku binar dan Delia datang.
“Kalian mau ngapain kesini?”. Tanya Delia menghampiri kami berbarengan mbak mengantarkan minuman.
“Makasih mbak”. Ujarku.
“Sama-sama mbak”. Jawabnya.

Alsan menikmati minumannya dan suasana tampak tegang dengan Delia duduk didepan kami.
“Aku mau balikin jaketmu”. Aku memulai perbincangan sembari meletakkan tas kantong berisi jaket Delia di atas meja.
“Di kampus kan bisa?”. Tanyanya datar.

Aku tidak mengerti dengan karakter Delia tapi sepertinya keramahan Delia memang sangat mahal. Sebelum aku menjawab ucapannya sudah disanggah oleh Alsan duluan. “Rico gak kesini?”.
“Nanti malem”.
“Suruh besok dateng ke kafe”.
“Mau ngapain?”.
“Ya ngumpul sama temen-temen, gara-gara jaket loe semua kacau”.
“Ya emangnya dia aja yang kacau, gara-gara gak jadi gubernur”.
“Loe nya juga hobi cari masalah”.
“Ya biarin aja”.
“Yo dah sekarang kami balik”.
“Hah? balik?”. Ujarku kaget.
“Emang mau ngapain lagi”. Tanya Alsan kemudian menghabiskan minumannya.
Aku hanya terdiam kemudian menghabiskan minumanku. Alsan kemudian pamit kepada Delia dan aku hanya mengucapkan terima kasih dengan kaku karena Delia tetap bersikap datar. Aku merasa lega sekali keluar dari rumah Delia, rasanya seperti baru keluar dari ujian semester.
“Kenapa? Kok tegang banget?”. Tanya Alsan sembari mengenakanku helm.
“Kamu pernah liat Delia senyum?”.
“Pernah. Ada apa?”.
“Tidak ada apa-apa. Ayok pulang”. Ujarku kemudian aku naik motor.

¤¤¤¤

Suasana yang benar-benar sempurna, bukannya hanya sekedar keindahan alam, tetapi kebersamaan bersama teman-teman. Aku mana tahan melihat hubungan pertemanan kami renggang apalagi ini salahku. Semoga malam ini hubungan kami kembali normal.
“Sekarang gue tau kenapa Alsan ngasih sticker kafe senja sama loe”. Ujar Putri.
“Emang alasannya apa?”.
“Karena dia pingin loe gak lupain gimana indahnya kafe senja, terutama saat bersama dia”.
Aku langsung menatap Putri tapi Putri tetap fokus melihat bintang.
“Apa iyaaa???”. Ujar seseorang dari belakang.
Aku dan Putri sontak melihat kebelakang menuju sumber suara, ternyata itu Andi. Andi berjalan mendekat menghampiri kami. “Kalo gitu, gue bakal bawa loe tiap hari kesini”. Ujarnya sembari menatap Putri.
“Just so so!!!”.

Aku berjalan pelan-pelan meninggalkan mereka berdua. Setidaknya hubungan Andi dan Putri kembali seperti dulu walau Putri masih saja galak. Aku masuk ke dalam kafe dan melihat Angel dan Genta sedang membuat kopi. Genta terus memarahi Angel yang mengasal membuatnya, harusnya menggunakan teknik. Aku melihat Alsan sedang membuat gambar diatas kopi dan aku duduk di hadapannya.
“Ada apa?”. Tanya Alsan meletakkan kopi diatas nampan untuk diambil temannya.
“Rico belum datang”.
Alsan mengambil ponsel dari saku celananya dan seperti mencoba untuk menelepon seseorang.
“Nomor Rico gak aktif”.
Aku hanya menghela nafas kemudian Alsan membuatkan kopi lagi dan diberikan kepadaku.
“Kopi pahit?”.
Alsan hanya mengangguk dan kembali bekerja. Saat aku mencicipinya ternyata kopi susu. Andi dan Putri masuk dan duduk disamping kananku disusul Angel berada disamping kiriku. Alsan dan Genta berada dihadapan kami sekarang sembari bekerja.
“Nomor siapa yang gak aktif?”. Tanya Andi.
“Nomor Rico”. Jawabku, Andi hanya mengangguk. Aku benar-benar dapat merasakan betapa masih kesalnya Andi dengan sikap Rico yang sangat keterlaluan.
“Udah deh gak usah bahas Rico, dia itu gak pantes dijadiin temen”. Keluh Angel.
“Angel jangan gitu. Selama ini dia baik mau antar jemput dan membantu kita”. Jawabku untuk memberikan pengertian.
“Gak cuma dia yang ngeselin tapi ceweknya juga sering berulah”.
“Delia juga baik kok mau minjemin jaketnya buat aku”.
“Itu kan juga gara-gara Rico yang buat baju loe kotor, wajar dia bertanggungjawab”. Sanggah Genta.
“Udah deh Al, gak usah bahas Rico buat suasana berantakan aja”. Ujar Andi.
“Gak nyangka ya kita bisa kumpul di kafe”. Ujar Genta mengalihkan pembicaraan.
“Awalnya gue mikir bakal bertiga terus”. Sanggah Putri.
“Udah kayak komplotan cewek terkenal aja kalian padahal enggak HAHAHA”. Sahut Genta. Angel dan Putri memincingkan mata mereka pada Genta dan Genta seperti biasa, “Ya enggaklah canda”.

Aku tidak tahu kenapa rasanya malam ini kurang menikmati kebersamaan. Aku tidak tahu bahwa pertengkaran itu benar-benar membuat mereka bisa melupakan Rico begitu saja.
“Minggu depan udah ujian terus disusul mata kuliah lain”. Ujar Andi.
“Selamat datang skripsi!!!”. Teriak Angel dan kami semua tertawa. Aku juga tertawa untuk mengikuti permainan saja.

Benar sekali. Semester depan, kami sudah semester tujuh, semester dimana skripsi sudah menghampiri kami. Waktu yang berharga ini akan semakin berkurang karena kesibukan kami nantinya. Aku tidak mau lulus dengan keadaan pertemanan seperti ini, akhirnya aku mulai pembicaraan membicarakan Rico kembali. “Kalian benar-benar marah dengan Rico?”. Pertanyaanku memecahkan suasana tawa mereka, termasuk Angel yang berhenti dari aktivitas minumnya.
“Udah deh Al jangan dibahas”. Jawab Angel. Kali ini raut wajah Angel tak bisa tertahankan karena aku yang masih membangkang akhirnya aku hanya diam tanpa menyanggah pernyataannya.

“Jam berapa sekarang?”. Tanya Alsan.
Putri langsung memeriksa ponsel di tasnya. “Udah mau jam 10, balik yuk. Kosan mau ditutup juga ini”.
“Put apa gunanya jam ditangan loe?”. Tanya Andi.
“Mati HAHAHA”
“Terus ngapain dipake?”.
“Buat pajangan aja”.
“Dasar gayak”.
“Just so so”.
Andi hanya memanyunkan bibirnya seperti biasa. Alsan melepaskan celemeknya dan bersiap-siap mengantarkanku pulang. Kami pamit dengan Genta, sedangkan Andi hanya ingin mengantarkan Putri dan Angel sampai kosan kemudian kembali lagi ke kafe.

Aku dibonceng oleh Alsan. Putri membonceng Angel berada di barisan depan dan Andi berada dibelakang mengendarai motor sendirian. Kami mengendarai motor secara berurutan tanpa bersebelahan. Jalanan ini memang milik nenek moyang kami, tapi tetap kami harus menghargai pengendara yang lain. Aku dan Alsan pisah dengan yang lain di gang rumahku. Aku turun dari motor sembari menyerahkan helm pada Alsan saat sudah sampai rumah. “Makasih ya Al”. Alsan hanya mengambil helmnya tanpa mengatakan apapun kemudian memandangiku.
“Rico mungkin lagi sibuk, apalagi ini malam minggu pasti lagi sama Delia”. Ujarnya dan aku masih terdiam.
“Ya udah aku duluan, kamu hati-hati pulangnya”. Ujarku kemudian membalikkan tubuhku, tapi tiba-tiba tangan Alsan menahan lenganku dan sontak kepalaku menengok ke belakang. Alsan kemudian menarikku dan mendekatkan posisi kami yang hanya berjarak satu meter.
“Kamu lupa sesuatu”.
“Apa?”.
Alsan tetap diam memandangiku.
“Surat?”.
“Bukan”.
“Terus apa?”.
“Janji kamu”.
Oh Tuhan!!!! Aku baru ingat kalau aku janji sama Alsan kalau aku berhasil keluar malam ke Kafe Senja bersamanya.

“Aku tunggu besok pagi”. Ujarnya sembari memberikan surat di tanganku kemudian pergi tanpa membiarkanku bicara. Aku terpaku menatapnya pergi.

“Kamu sudah pulang? Kenapa tidak masuk?”. Teriak nenek dari pintu rumah.
“Iya nek”. Ujarku kemudian menghampiri nenek dan salim. Kami masuk rumah bersama dan aku pun langsung bersiap-siap untuk beranjak tidur. Aku sudah terlentang diatas kasur dan mematikan lampu kamar, tapi pikiranku masih terbangun, dan mataku belum terlelap memikirkan janjiku dengan Alsan. Aku kemudian membaca surat Alsan.

Air jernih selalu menyentuhkan..
Bebatuan tampak kokok di perairan..
Belum hancur lebur hingga tahunan..
Percayalah.. air jernih selalu menang dari bebatuan..

Puisi singkat dari Alsan. Aku tahu maksudnya. Alsan memintaku untuk jangan menyerah dan tetap semangat, tetapi bagaimana janjiku dengan Alsan, takutnya pasti nenek marah. “Kalau nenek tahu pasti nanti nenek bakal marah-marah, kalau nenek marah nanti Alsan tidak diijinkan menemuiku lagi”. Gumamku sembari memainkan jemari tanganku dan memasukkan surat dalam kotak seperti biasa.

“Besok pagi pakai baju apa ya? Pakai sepatu apa ya”. Gumamku yang memiringkan tubuhku kemudian menggigit jemariku di tempat tidur. Aku bangun dan menghidupkan lampu kamar kembali. Aku membuka lemari pakaianku. Aku merasa tak ada yang cocok untuk dikenakan besok. Aku takut Alsan malu jalan denganku.
“Bagaimana ini?”. Keluhku sembari duduk dipinggiran tempat tidur.

%d bloggers like this: