Catatan Akhir Kuliah – Part 17

Suasana subuh selalu membangunkanku dari rasa lelah sepanjang hari. Selelah apapun aku pasti tetap bangun pagi. Aku beranjak dari tempat tidur dan membereskannya. Aku menuju dapur dan melihat nenek sedang mencuci beras.
“Kamu cepat sholat habis itu cuci muka pakai air cucian beras”.
“Iya nek”. Jawabku sembari menutup pintu kamar mandi.

Tugasku seperti biasa, tapi pagi ini ada yang tidak biasa dari tugasku, yaitu kedatangan Martin. Martin datang saat aku sedang menyapu halaman depan.
“Wah Nak Martin pagi-pagi sudah kesini”. Ujar nenek pada Martin saat bertemu depan rumah. Kebetulan mereka berpapasan saat nenek akan berangkat sekolah. Martin salim dan berbincang sebentar dengan nenek. Nenek lalu pamit berangkat dan Martin menghampiriku.

“Kamu pagi-pagi kesini?”. Tanyaku.
“Aku kan udah bilang sama kamu, selama aku di Semarang akan tiap hari berkunjung”. Jawabnya dengan senyum khasnya yang selalu membuat melayang tinggi, tapi itu dulu saat dia jadi pacarku.

Martin adalah mantan kekasihku sewaktu sekolah menengah atas. Kami memutuskan berpisah ketika Martin akan kuliah di Jerman dan membebaskan diriku walau sebenarnya waktu itu tak masalah bagiku jika kami harus menjalani hubungan jarak jauh tapi mungkin sekarang kedatangannya menjadi masalah karena hatiku bukan tentang dia lagi.

“Kamu kuliah jam berapa?”. Tanya Martin saat aku menyisihkan sampah organik dan anorganik di tong sampah. Sampah organik ini nantinya akan dijadikan pupuk daun dengan disiram air pembuat mikroorganisme agar dapat dirombak secara cepat oleh Pak Toto.

“Nanti sebentar lagi”. Jawabku malas.
“Kita makan dulu ya?”.
“Aku udah sarapan”.
“Tapi aku belum”.
“Ya udah tinggal makan”.
“Aku tidak suka makan sendirian”.
Aku hanya menghela nafas dan bersedia menemaninya makan diluar. Dari dulu Martin tidak pernah berubah, dia akan berusaha keras untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.

Aku bersiap-siap mandi, sedangkan Martin duduk di teras depan berbincang dengan Pak Toto. Baru kali ini aku tidak semangat untuk pergi, padahal hari ini ada penampilan Angel. Aku hanya mengenakan batik seperti biasa. Aku keluar setelah rapih.

“Kamu ngapain pakai batik?”. Tanya Martin dengan gelagat terlihat tidak suka.
“Aku nanti mau lihat pagelaran seni”.
“Mendingan kita nonton film aja, kamu pakai batik keliatan kita mau ke acara formal aja”.
“Emang batik buat sehari-hari gak cocok?”. Tanyaku tak terima.
“Ya liat keadaan dong Al kalau mau pakai batik”.
“Aku suka pakai batik kalau gitu kita gak jadi makan”.
“Iya deh aku minta maaf”. Ujarnya sembari menarik lenganku saat aku akan kembali masuk rumah, saat aku menatapnya nanar, ia melepaskan genggamannya. Aku pun berpamitan dengan Pak Toto dan salim, tapi sebelum aku mengikuti langkah kaki Martin yang sudah mendahuluiku. Pak Toto sedikit bergumam padaku. “Pak Toto lebih suka Mbak Al mempertahankan apa yang Mbak Al suka dibandingkan membuat orang lain nyaman dekat dengan Mbak Al”.
Aku hanya tersenyum sembari mengangguk dan menyusul Martin. Aku tidak mengerti mengapa Pak Toto berkata seperti itu, tapi mungkin ini ada hubungannya dengan Martin yang kurang menyukai aku mengenakan batik.

Martin terus mengajakku berbincang selama perjalanan tetapi aku hanya menjawab seadanya. Aku memiliki waktu satu jam sebelum penampilan Angel. Aku rasa cukup hanya untuk menemani Martin makan saja. Kami menuju Paragon dan seperti biasa ada tempat makan kesukaan Martin yaitu makanan jepang. Martin menarik kursi untukku dan dia yang memesan makanan. Aku hanya duduk pasrah seperti anak kecil yang sedang pergi bersama orang tuanya yang terima saja diberikan apapun.

Tak lama Martin datang dan duduk dihadapanku sembari tersenyum. Aku tidak mengerti kenapa Martin hobi sekali tersenyum karena sebenarnya itu sama sekali tidak membuatnya manis, tidak seperti Alsan walau jarang tersenyum tapi manis sekali.

“Eh panjang umur”. Ujarku saat membuka ponselku yang bergetar.
“Ada apa Al?”.
“Tidak ada apa-apa”.
Aku hanya terkejut saat menerima pesan dari Alsan yang menanyakan aku dimana dan akan datang jam berapa.

Aku mungkin akan sedikit terlambat. Jawab pesanku pada Alsan.

Pesanan kami datang, Martin sangat senang sekali melihat makanan datang seperti mendapatkan mainan baru. Kami mulai makan dan suguhan tambahanku mendengarkan cerita Martin tentang Jerman. Aku hanya mendengarkan Martin yang berkata bahwa seperti biasa banyak wanita mendekatinya tapi tak ada yang menarik perhatiannya. Aku bisa memaklumi itu karena dari jaman sekolah memang Martin banyak yang mengagumi bahkan dulu kami berpacaran secara diam-diam, Martin bilang agar mereka tak menggangguku.

“Al???”.
“Iya tin?”.
“Kalau lagi ketemu jangan mainan ponsel dong”.
“Kita lagi makan tepatnya”. Jawabku acuh.
“Ada yang penting ya?”.
“Semua teman-teman mencariku”.
“Apa kamu punya urusan?”.
Aku hanya mengangguk. Aku merasa kenapa Martin lama sekali makannya, aku saja sudah selesai sedari tadi. Martin menghabiskan makanannya dan kami bergegas menuju parkiran mobil, tapi Martin tetap saja berjalan dengan santai.
“Ayok Martin”. Ajakku kesal saat kami sudah mendekati mobil.

Kami memamsuki mobil, Martin melajukan mobilnya dan mengantarkanku di depan gedung serba guna. Aku turun dari mobil begitu saja tanpa berpamitan dengannya. Aku langsung berlari menuju gedung dan duduk di barisan penonton samping Putri. Penampilan yang sedang berlangsung adalah penampilan drama anak sastra.
“Kamu darimana saja?”.
“Aku habis nganterin temen”.
“Temen mana?”.
“Temen sekolah”.

Putri hanya menatapku heran. Putri tahu teman dekat sekolahku hanya satu, yaitu Misluna. Putri mungkin percaya bahwa aku baru pergi dengannya. Kami kembali menyaksikan penampilan anak sastra dengan pertunjukkan drama ‘Legenda Nyai Brintik’. Cerita rakyat yang menceritakan seorang perempuan yang tidak puas dengan apa yang dimilikinya dan bertarung dengan salah satu orang kerajaan yang membuatnya kalah dan menjadi sesosok yang baik setelah dibimbing oleh orang-orang kerajaan. Legenda Nyai Brintik dikisahkan berawal dari seorang perempuan yang tinggal di Gunung Brintik. Brintik memiliki pengertian berambut keriting.

Penyajian yang luar biasa menghanyutkan siapapun yang menonton seakan ikut terlibat langsung dalam cerita. Penonton bertepuk tangan riuh hingga bersiul setelah pargelaran drama selesai. Sebagai penutup, Angel menari tarian jawa dengan gaya lenggoknya. Angel yang biasa menari dengan ketukan irama cepat seperti tarian Bali, kini dia menari dengan ketukan lembut tapi tetap piawai dipandang seperti sudah terbiasa.

“Wooo keren”. Teriak Putri saat Angel menghampiri kami dan kami memeluknya.
“Sumpah deg-degan ini pertama kali tampil di panggung, tapi ada yang buat lebih deg-degan”. Ujar Angel dan kami melepaskan pelukan.
“Apa Ngel?”. Tanyaku.
“Kamu dari mana sih Al? Lama banget datengnya”.
“Aku tadi kedatangan teman sekolah, karena kuliahnya jauh dan dia lagi libur jadi minta ditemenin makan dulu. Aku gak enak”.
“Dia kuliah di luar negeri ya?”.
Pertanyaan Angel langsung membuatku diam karena bertepatan Alsan berjalan menghampiri kami. Aku hanya mengangguk dengan ucapan Angel.
“Yo dah ayok kita foto-foto dulu”. Ajak Putri.

Aku pikir Alsan tidak sempat mendengar bahwa keterlambatanku karena pergi dengan seseorang. Kami foto bersama, hal biasa yang dilakukan dalam peristiwa yang ingin diabadikan. Alsan menjadi sasaran enak untuk disuruh memfoto kami, tapi hebatnya dia tidak mengeluh sama sekali, justru memberikan arahan pada kami bagaimana baiknya kami bergaya, padahal entah berapa gaya yang difoto. Aku bersyukur tidak terlambat, jika terlambat mungkin bukan hanya Angel yang akan marah-marah tapi juga Putri.

¤¤¤¤

Semenjak penelitian, aku jadi berangkat ke kampus lebih pagi. Aku memang sudah tidak kuliah tetapi merawat tanaman harus memiliki perhatian lebih dari merawat manusia. Jam pemeliharaan tidak boleh terlambat, saat dimana penyiraman, pemupukan, bahkan penyiangan gulma. Jam delapan biasanya aku sudah sampai kampus untuk sekedar menyiram. Penelitianku sudah berjalan 3 bulan untuk penyetekan dan siap akan seminar untuk pindah tanam dan aplikasi perlakuan. Hari ini aku memiliki janji dengan Putri untuk menemaninya di lab jadi tidak langsung pulang seperti biasa, aku juga akan bimbingan terlebih dahulu membahas mengenai jadwal seminarku.

“Hari ini mendung ya?”. Suara seseorang datang dari arah pintu ketika aku sedang menyiram tanaman, ternyata itu adalah Ibu Sakinah.
“Iya bu”. Jawabku menghampiri beliau dan salim.
“Kamu persiapan seminar udah sampai mana?”.
“Udah selesai bu”.
“Jangan lupa belajar”.
“Iya bu”.

Aku dan Ibu Sakinah sama-sama menyiram tanaman kami. Aku tidak perlu bimbingan karena sudah bertemu pembimbing disini. Rumah kaca tempat aku penelitian sama seperti kebun di rumah yang dipenuhi warna warni tanaman hias juga berbagai jenis tanaman sayuran. Ibu Sakinah masih mengurus tanamannya sendiri, padahal umur beliau sudah tidak muda lagi. Benar kata nenek, jika tubuhmu terlatih bergerak maka otot-ototnya akan tetap kuat walau kau sudah menua.

Ibu Sakinah meninggalkanku setelah selesai menyiram. Ibu Sakinah selalu perhatian, bahkan beliau selalu mengingatkanku untuk menjaga kesehatan. Ibu Sakinah keluar dari tak lama aku selesai menyiram, aku membereskan peralatan kemudian mengunci rumah kaca. Aku pergi menuju laboratorium kultur jaringan tapi ternyata Putri belum datang, mungkin ini juga masih tergolong pagi untuk kami mahasiswa penelitian. Aku memutuskan menunggu di gazebo depan gedung sembari membaca novel.

Ponselku berdering ternyata panggilan dari Martin. Martin menelefon dan berkata jika dia sakit. Aku sebenarnya malas menghadapinya, tetapi mengingat kesalahanku dimasa lalu membuatku merasa selalu tak enak hati. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke rumahnya sejenak karena Putri belum datang juga.

Aku sampai perumahan Martin yang tidak berada jauh dengan rumah Delia dengan naik angkot. Rumah Martin pun berseberangan dengan Rumah Delia. Pintu kecil otomatis terbuka saat aku baru menekan bel rumah dan aku langsung masuk. Aku memasuki rumah Martin ditemani asisten rumah tangga yang sudah menungguku di teras rumah. Aku pikir asistennya ganti, Martin sering cerita bahwa ibunya sering mengganti asisten rumah tangga lantaran tak pernah cocok dengan cara kerjanya.

“Kamu sakit apa?”. Tanyaku saat masuk kamarnya dan melihat dia tidur terlentang dengan selimut.
“Panas Al. butuh asupan”.
“Aku ke kampus aja”.
“Kenapa?”. Tanya Martin tampak kaget kemudian duduk.
“Kalau butuh asupan tinggal makan saja”.
“Haduhhh…”. Tiba-tiba Martin memegang kepalanya. Aku langsung menghampirinya dan menanyakan keadaannya. Martin memintaku untuk dibuatkan bubur nasi. Aku menurutinya dan menyuruhnya untuk tiduran sembari menunggu. Awalnya aku menolak karena ada asisten rumah tangga tapi dia ingin aku yang membuatkannya.

“Haduuuh pake lowbet lagi”. Aku bergumam sembari memasak ketika ponselku berbunyi mati begitu saja. Aku menanyakan kepada bibi tentang charger tapi beliau tak menggunakan smartphone. Martin pasti memiliki charger yang tak sama denganku mengingat ponselnya tipe apel keroak, sedangkan punyaku tipe rakyat biasa. Aku mengantarkan bubur nasi dan teh hangat ke kamar, Martin memakannya secara perlahan.

Martin kok lama banget makannya..

“Mau kemana?”. Tanya Martin ketika aku sedang berdiri.
“Mau kamar mandi”.
“Kok ke arah luar? Kan disini juga ada kamar mandi”.
“Mau diluar aja”. Jawabku datar dan Martin hanya diam. Aku berjalan keluar kamar dan menuju kamar mandi.

Setelah aku keluar kamar mandi di dapur, aku menatap jendela kaca dapur yang langsung menuju taman belakang dan terlihat hujan sedang turun. Aku pun keluar menuju taman belakang. Tamannya hanya menampakkan tanah yang berumput gajah, dan tak ada tanaman hias bunga. Aku mainkan jemari tanganku menyentuh rintikan hujan. Hujan adalah saat terbaik bagiku.

Aku sebenarnya malas berada disini, dulu aku juga berpacaran dengan Martin karena dia terus mengejarku di luar sekolah. Dia selalu menggangguku saat aku pergi ke toko buku, bahkan berkunjung ke rumah. Akhirnya aku menyerah dan berpacaran dengannya, tetapi Martin memintaku untuk siapapun tidak boleh tahu termasuk Misluna. Hubungan kami yang diam-diam berjalan dengan baik, tetapi aku selalu menolak untuk diajak keluar malam karena pasti nenek sangat melarang keras. Walau Martin bilang tidak apa-apa, nanti nenek marahnya cuma sebentar, tetapi bagiku walau cuma sebentar itu juga menyakitiku. Nenek sudah merawat dan menjagaku, masak aku hancurkan hanya karena demi Martin yang belum tentu jodohku. Kami sering bertengkar karena hal itu dan akhirnya kami putus karena katanya Martin akan kuliah di Jerman, awalnya itu alasan bagiku tapi sekarang dia tetap datang lagi.

Aku duduk di sebuah kursi berbentuk khusus untuk berebah dan mulai tertidur. Aku bermimpi sangat aneh, aku bermimpi seperti lari dan lari kemudian tiba-tiba seakan aku akan jatuh pada suatu jurang dan aku terbangun. Mimpi dikejar dan terbangun tiba-tiba itu tidak enak sekali bahkan nafas terasa tersengal. Aku terbangun dengan keadaan sudah terselimuti dan entahlah siapa, yang jelas aku harus melihat jam sekarang. Aku langsung berlari menuju dapur untuk melihat jam dinding.
“Shitt!!! Sudah sore, apa kabar Putri”.

Aku berlari keluar rumah dan mencari tukang ojek. Sebelum aku keluar rumah, aku mendengar Martin memanggil namaku tapi apa peduli jika sekarang Putri lebih penting. Perutku berbunyi bertepatan aku sampai pangkalan ojek. Aku mampir warung sejenak untuk membeli roti dan susu untuk mengganjal perutku. Syukurnya warung bertepatan samping pangkalan ojek.

“Duuh pak itu tangkai cabai banyak sekali”. Tanyaku pada bapak penjual melihat tangkai cabai terkumpul tanpa buahnya di meja makan.
“Tadi ada anak cowok dari pagi nongkrong disini sambil makan gorengan”.
“Kenapa batangnya gak dibuang?”.
“Katanya kumpulin sampah organik biar bisa jadi pupuk”.
Aku tertawa dengan perkataan bapak penjual, seperti Alsan saja pikirku.

Aku mengambil kembalianku dan mencari tukang ojek. Saat aku sudah diatas motor ojek, aku melihat mobil Delia melintas. Kami pun berangkat ke kampus dengan ojek sembari makan di jalan. Sebenarnya ini tidak baik, tetapi dalam keadaan tergesa-gesa apapun bisa terjadi.

Aku sampai kampus hanya 15 menit. Aku langsung membayar dan berlari menuju kampus atau lebih tepatnya laboratorium kultur jaringan. Aku sampai depan laboratorium dan melihat Andi berdiri di depan pintu.
“Loe darimana aja Al? Ninggalin Putri sendirian, mana hujan petir. Loe kan tau Putri takut petir”. Keluh Andi dan aku hanya bisa diam.
“Gue gak bisa nemenin Putri karena gue cowok, apa kata dosen nanti. Hari ini Angel juga panen, loenya gak ada”. Lanjut Andi dan aku masih diam membisu kemudian Putri keluar.
“Ayok pulang Ndi”. Ajak Putri.

Aku menghampiri Putri. “Aku minta maaf Put”.
“Loe kan ada ponsel Al, jadi bisa hubungi gue kalo gak bisa”. Putri kembali berjalan bersama Andi meninggalkanku menuju pintu gedung hingga tanpa sengaja menabrak Delia yang akan masuk gedung.
“Loe hati-hati kalau jalan”. Keluh Delia membenarkan bajunya yang tak berantakan termasuk rambutnya.
“Gue minta maaf”. Ujar Putri dan Delia hanya menghela nafas.
“Loe ngapain Del kesini?”. Tanya Andi.
“Si Rico lagi di sekret”.. Jawabnya kemudian menghampiriku.
“Gue mau bilang makasih udah nolongin dan rawat temen gue yang sakit”. Ujar Delia memberikan plastik berisi nasi kotak.
“Loe juga belum makan seharian”. Lanjutnya dan aku mengambil nasi kotaknya sembari mengucapkan terima kasih.

Aku pikir orang yang dimaksud oleh Delia adalah Martin. Martin dan Delia memang berteman dekat mengingat Martin ketua basket, sedangkan Delia tim cheerleader waktu sekolah. Delia meninggalkan kami dan sebelum benar-benar pergi dia berujar memunggungiku. “Gue gak bisa rawat dia karena ada Rico sekarang, sampaikan itu padanya”.
Aku hanya terdiam mendengar ucapan Delia.

“Kok loe gak bilang Al kalo nolongin orang?”. Tanya Putri padaku dan aku hanya tetap diam, aku takut jika Andi tahu itu anak laki-laki pasti nanti melapor pada Alsan dan semua jadi kacau.

Kok pede banget aku…HAHAHA

“Tapi temennya Delia siapa?”. Tanya Andi. Kali ini aku harus menjawabnya. “Sebenarnya dia teman sekolah kami, tapi tadi pagi waktu aku udah sampai lab tiba-tiba telepon kalau sakit dan dia dirumah hanya berdua dengan pembantunya”.
“Oh begitu. Lain kali bilang aja Al”. Sanggah Putri sembari tersenyum dan kemudian Alsan datang menghampiri kami dengan nafas tersengal-sengal di pintu gedung.
“Loe habis lari?”. Tanya Andi tapi Alsan hanya berjalan pelan menghampiriku.
“Hape loe mati?”. Tanya Alsan dan aku hanya mengangguk.
“Powerbank dari gue gak di pake?”.

Gue? Pasti Alsan benar-benar kesal sekarang..

“Aku lupa bawa”.
“Lain kali bawa”. Ujar Alsan dengan nada sedikit menekan.
“Emangnya ada apa sih?”.
“Loe gak kasihan sama Putri dan lebih mentingin orang lain?”. Raut wajah Alsan mulai menunjukkan kekesalan dan aku hanya diam menatapnya.
“Yo dah kita pulang aja ya sebelum hujan lagi”. Ujar Putri mencairkan suasana.

Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan Alsan. Putri harusnya disini yang benar-benar marah padaku, kenapa dia yang jadi kesal. Kami berjalan menuju parkiran motor. Alsan dan Andi berada di depan kami asik bercanda.

“Temen loe siapa sih Al yang sakit?”.
Aku hanya diam.
“Misluna?”.
Aku masih tetap diam.

“Aku duluan yaa”. Ujarku saat sampai parkiran motor dan berjalan menuju halte.
“Al!!!”. Teriak Putri tapi aku hanya tetap berjalan. Aku mengabaikannya karena aku merasa kesal, padahal yang lain bersikap biasa aja kenapa dia harus sekhawatir itu. Aku menunggu di halte tapi tiba-tiba Alsan berhenti di depanku dengan motor klasik hitamnya. Alsan menatapku tajam dan aku tidak suka matanya yang sedang seperti itu. Aku tidak tahu mengapa aku suka sekali saat dia khawatir tapi aku tidak suka sampai raut wajahnya benar-benar mengesalkan. “Ayok pulang bareng sudah sore, nanti kena marah”. Ujarnya menatapku dan memberikan helm.

Entah sihir mana yang masuk pada diriku, aku langsung mengambil helm dan mengenakannya kemudian duduk diatas motornya. Suasana perjalanan kami hening seperti heningnya angin sore setelah hujan tanpa badai. Suasana perjalanan kami dingin tanpa pembicaraan seperti cuaca saat ini yang menusuk kulit dan hatiku. Suasana perjalanan kami kacau dan aku menahan air mataku di tenggorakan tetapi air mata dedaunan tampaknya tak tertahanankan menetes di lenganku yang tak dibaluti sehelai benang pun. Kami sudah sampai depan rumahku, aku langsung turun dan berjalan.
“Mana helmnya?”. Tanya Alsan.
Aku menghela nafas dan berbalik mulai bicara. “Kenapa kamu semarah itu?”. Pertanyaanku membuat matanya mulai redup akan kemarahan seakan bukan maksudnya bersikap berlebihan.
“Aku enggak suka liat kamu seharian di rumah cowok”. Jawabnya tenang.
“Darimana kamu tahu itu pria?”.
“Aku bertemu Delia saat membeli makanan”.
Aku terdiam dengan pernyataan Alsan. Aku langsung mengembalikan helm. “Ini terima kasih”. Ujarku lembut dan Alsan langsung mengambilnya mengaitkannya di jok belakang seperti biasa.
“Kamu mandi dan terus makan. Kasihan Delia sudah membelikan kamu makanan”. Ujarnya kembali.
“Kok Delia tahu aku belum makan yaa?”. Aku baru sadar ini dan Alsan hanya menggelengkan kepalanya. Alsan kemudian pamit pulang tanpa senyum.
“Kayak orang pacaran saja, berantem segala”. Gumamku sembari menutup pintu gerbang.

¤¤¤¤

“Akhirnya seminar!!!”. Teriak Genta saat masuk ruangan seminarku, hari ini aku seminar. Pagi-pagi Putri dan Andi pergi ke toko kue membeli makanan untuk dosen dan peserta seminar, sedangkan Angel menemaniku dan ikut menata tempat bersama Alsan yang pagi-pagi sudah datang menjemputku. Genta datang terlambat bersama Indra seperti biasa, mereka sebelas dua belas masalah bangun siang. Hari ini Rico juga datang tapi harus piket dulu di laboratorium. Hatiku benar-benar deg-degan sekarang ini. Aku takut jika presentasiku kurang bagus bahkan tak bisa menjawab pertanyaan.

“Jangan dibaca terus nanti lupa”. Ujar Alsan padaku sembari membenarkan proyektor.
“Takut Al”
Alsan mendekatiku dan berkata. “Lebih baik kamu diam saat tidak bisa, karena jawabanmu yang ngasal akan memancing pertanyaan yang lain”. Aku hanya menatapnya dan dosen datang semuanya secara bersamaan. Aku berdiri dan menyalimi satu per satu termasuk Genta ikut menyalami karena satu bimbingan denganku tapi beda penguji.

Presentasiku dimulai dan semua berjalan dengan lancar dan mahasiswa tak banyak bertanya yang menyulitkanku, tetapi dosen pengujiku yang terkenal galak cukup menguji nyaliku di balik sikap manisnya. Dosen pengujiku adalah orang yang paling aku takuti, ada aura tidak enak dari wajahnya seolah sulit untuk diajak bersahabat dengan mahasiswa. Dia memang pintar, tapi seolah-olah mahasiswa adalah makhluk benar-benar bodoh. Aku tahu itu bentuk kekecawaannya kepada mahasiswa yang sekarang mulai tidak aktif dalam hal bertanya. Beliau mengutarakannya dengan ekspresi wajah yang benar-benar tidak bisa di toleransi.

Presentasipun berakhir dengan tepuk tangan meriah dan aku memiliki pekerjaan rumah cukup banyak untuk segera memperbaiki tulisan skripsiku kembali dan segera melakukan aplikasi agar penelitianku cepat selesai. Aku rasanya tenang sekali, setidaknya satu seminar sudah aku lewati walau aku dan Genta paling terakhir untuk masalah seminar diantara kelompok kami.

“Al, kita mau makan dimana?”. Tanya Genta. “Ada Alsan kok, aman”. Lanjutnya sembari meringis.
Aku hanya menajamkan mataku dan seperti biasa Genta langsung berujar. “Ya enggaklah canda”.
“Loe ini Gen, ngeledekin Al muluk, nanti serigala ngamuk loh”. Ledek Andi sembari tertawa, kemudian mereka berdua kompak. “Ya enggaklah canda”. Aku hanya menggelengkan kepala sembari memasukkan berkasku dalam tas.
“Kita jadi ke Sam Poo Kong kan?”. Tanya Angel saat beres-beres.
“Lah kita gak diajak?”. Tanya Andi.
“Hari ini hari perempuan”. Jawab sinis Putri.
“Hari kita kapan?”. Tanya Andi dengan wajah menggoda. Putri hanya mengerucutkan bibir tak suka, sedangkan Genta asik membunyikan suara gendang dari mulutnya.

Aku, Angel, dan Putri sudah sepakat jika kami sudah seminar semua, kami akan pergi ke Sam Poo Kong. Setelah kami semua selesai beres-beres, kami pun bersiap keluar ruangan dan tiba-tiba Rico muncul.
“Disaster si coming”. Gumam Angel.
“Sorry Al, gue tadi udah disini cuma gak enak mau masuk dan pas dosen keluar, eh diajak ngobrol Ibu Sakinah”. Ujar Rico dengan menyungkupkan kedua tangannya padaku.
“Alasan!”. Teriak Genta kemudian merangkulkan lengan kanannya pada Rico untuk digiring keluar ruangan. Kami foto bersama di luar ruangan. Andi dan Genta pamit untuk pemupukan dilahan Andi. Alsan akan mengantarkanku terlebih dahulu sembari meletakkan barang sebelum pergi. Rico tampak bingung melihat kami pergi tanpa mengajaknya.
“Eh Put mau kemana?”. Tanya Rico.
“Mau main”.
“Kalau dosen nyaraiin?”.
“Urusan loe”.

Kami melanjutkan perjalanan. Alsan mengantarkanku pulang, sedangkan Angel dan Putri menyusul kami dengan mengendarai motor juga. Motor Putri akan dititipkan di rumahku kemudian kami berangkat bersama naik angkot.
“Makasih Alsan. Hati-hati”. Teriak kami dan Alsan hanya tersenyum kemudian pergi. Aku langsung bergegas berganti pakaian hitam putihku mengenakan pakaian santai dan kami siap meluncur menuju Sam Poo Kong.

Sam Poo Kong atau Gedong Batu adalah sebuah kuil Tionghoa yang terletak di daerah Simongan. Tempat ini konon dulunya adalah tempat persinggahan Laksmana Cheng Ho, seorang penjelajah asal Tiongkok. Sam Poo Kong adalah klenteng yang menjadi salah satu objek wisata menarik di Semarang. Kami sampai Sam Poo Kong yang tak jauh dari Masjid Agung Semarang. Kami masuk dengan mata penuh terpesona.

Sam Poo Kong merupakan bangunan klenteng, arsitektur khas negara cina dengan ukiran kepala naga, dan warnanya dominan merah. Bangunan ini bangunan tunggal dengan beratap susun. Saat aku menengok ke arah kananku tepat jalan keluar masuk klenteng akan nampak pohon beringin yang besar dengan digantungi lampu lampion disekelilingnya, dan terdapat guci dibawahnya untuk duduk dan kursi panjang yang juga berwarna merah. Halamannya sangat luas, dan terdapat tempat sembahyang yang tidak sembarangan orang bisa masuk. Ada patung besar di ujung sana, kami menghampiri patung tersebut. Perjalanan kami menuju patung tersebut diiringi alunan lagu-lagu Tiongkok dan deraian air mancur yang mengalir di setiap depan kuil. Terdapat tiga bangunan pokok untuk sembahyang yang aku lewati.

Aku sampai pada Patung Laksmana Cheng Ho. Ada dua patung singa yang terletak diantara gerbang besar di ujung lokasi ini. Sam Poo Kong begitu megah seperti aku sedang benar-benar berada di Tiongkok. Penghuni dan wisatawan disini sangat ramah dan saling toleransi. Indonesia memiliki beragam budaya dan saling menghargai, aku bangga semuanya dapat hidup menyatu. Aku membaca Kisah Laksmana Cheng Ho dari tulisan di bawah patungnya.

“Ayok kita foto dulu”. Teriak Angel dan seperti biasa satu jepretan tak akan puas bagi wanita, padahal seharusnya latar belakang lebih penting daripada foto sendiri. Salah satu dari kami hanya Angel yang pandai mengambil gambar. Dia terus memfoto kami hingga lupa untuk dirinya sendiri.

“Catur!!!”. Teriak Angel dari kejauhan sambil melambaikan tangan kepada Catur yang merupakan teman sekelas kami yang sedang memandu turis wisata. Angel menghampirinya untuk meminta tolong memfoto kami dan dia. Selesai memfoto kami, Catur memfoto Angel, aku dan Putri lalu menikmati suasana di depan kuil karena kebetulan cuaca tidak panas.

Puas melihat-lihat, aku dan Putri menghampiri Angel dan Catur. Catur sedang duduk di bawah dengan wajah begitu lelah”. “Loe kenapa Tur?”. Tanya Putri yang berdiri didepannya.
“Gak sanggup gue sama Angel, bolak-balik foto, yang viewnya jelek suruh foto lagi, badannya gendut nyuruh foto lagi dan yang buat gue kesel di setiap foto gayanya gak ada yang berubah”. Keluh Catur dan kami hanya tertawa.

Catur pamit pergi dan kembali memandu turis yang cukup ditinggal lama. Kami mengucapkan terima kasih kepada catur yang telah meluangkan waktunya dan Catur hanya melambaikan tangan mungkin karena lelah. Kami lalu memutuskan untuk pulang.

“Di Bali ada klenteng?”. Tanyaku pada Angel yang sedang melihat foto di kameranya sembari berjalan, kemudian menatapku.
“Tentu ada, malah banyak walau tidak seperti Sam Poo Kong yang besar. Bali juga seperti pulau lain, ada beragam suku dan agama didalamnya, tentu bukan hal yang asing. Makanya kalian harus ke Bali”. Jawab Angel yang selalu semangat bercerita tentang Bali. “Nanti Mama Papa mau aku ajakin kesini. Pasti mereka suka banget”.
Aku hanya tersenyum dan berharap jika orang tuaku masih hidup pasti aku akan berkata sama apa yang dikatakan Angel.

Kami pulang naik angkot kembali dan berhenti di pinggir jalan Pasar Simpang Lima. Kami berjalan menuju depan tahu bakso di salah satu toko diantara deretan toko lainnya. Dari naik angkot sampai di tempat makan kami tidak berhenti tertawa membicarakan hal tak penting seperti jika ada perempuan mengenakan pakaian warna warni, bahkan ada laki-laki dengan gaya kurang gantengnya bersikap dingin depan kami, itu rasanya geli sekali.
“Mas ini buat loe”. Ujar Angel memberikan uang koin 500 rupiah pada laki-laki tersebut yang sedari tadi berdiri dengan memasukkan kedua tangannya di saku celana. Laki-laki tersebut hanya diam dengan mengambil uang koin tersebut. Angel menunjuk orang di sebelahnya dan Angel hanya tersenyum saat laki-laki tersebut kembali menatapnya. Angel kembali menghampiriku dan Putri sembari berbisik. “Laki-laki itu emang gak ganteng. Ada pengemis di sampingnya kok didiemin aja”. Aku dan Putri hanya tersenyum dan kami kembali melanjutkan perjalanan.

Langkahku berhenti tepat kepada nenek penjual getuk. Aku menghampiri beliau meninggalkan Angel dan Putri.
“Nek mau getuk 5 bungkus”.
“Eh si ndok, cantiknya pakai rok panjang”.
Aku tersipu malu dan tersenyum karena ingat Alsan bagaimana kesalnya dirinya waktu itu saat aku mengenakan rok pendek. “Nenek masih ingat aku?”.
“Masih dong ndok, ini getuknya”. Jawabnya sembari memberikan plastik berisi bungkusan getuk dan aku langsung memberikannya uang. Aku langsung berdiri dan menghampiri Angel dan Putri. Tanpa sadar ternyata Angel memfotoku dengan nenek.

“Ndok…”.
“Iya nek?”. Jawabku membalikkan tubuh setengah perjalananku.
“Nenek suka sekali lihat wajahmu bercahaya bagai matahari terbit, suatu hari kamu akan jadi orang hebat”.
“Aamiin, terima kasih nek”. Jawabku tersenyum dan nenek juga tersenyum.

Kami bertiga kembali berjalan dan aku bertanya pada Angel untuk apa foto tadi, dan katanya dia akan memposting foto tersebut ke sosial media. “Bukankah harusnya sosial media digunakan sebagai media sosial?”. Ujarnya dan dia kembali berujar. “Kayaknya kali ini bakal Putri yang berhenti”.
“Iya gue bakal berhenti di tempat makan yang kita tuju”. Jawab Putri dan kami masuk sambil tertawa sembari memesan makanan. Kami kembali membahas tentang orang-orang yang kami temui hari ini. Persahabatan tanpa membicarakan orang lain memang hampa dan jangan saling membicarakan sahabatnya di belakang. Sahabat itu seperti cerminanmu, jika kau baik maka kau akan dikelilingi orang baik juga.

%d bloggers like this: