Catatan Akhir kuliah -Part 18

Aku masih ingat pertama kali..
Aku berjumpa dengan temanku ini..
Aku terpukau geli..
Matanya yang bersinar bagai mentari..

Semester silih berganti..
Kita masih mengakrabkan diri..
Canda dan tawa saling berbagi..
Terutama masalah yang selimuti diri..

Tuhan yang aku cintai..
Biarkan aku menatapnya sendiri..
Tanpa harus memiliki..
Asal aku masih melihat senyum penyejuk hati..

Pagi ini setelah aku mandi dan berganti pakaian, aku melihat pemandangan tak biasa dari jendela kamarku, aku melihat Alsan sedang bermain gitar memunggungiku mengiringi nyanyian Pak Toto.

Aduhai….adu..manisnya..
Betapa kau menggoncangkan hatiku…

Begitu lirik yang aku dengar saat Pak Toto bernyanyi dengan Alsan yang mahir memainkan jemari tangannya memetik gitar. Pak Toto bernyanyi sembari menyiram dan sesekali tertawa bersama Alsan dengan girangnya, bahkan Pak Toto menggoyangkan pinggulnya.

“Eh Mbak Al”. Ujar Pak Toto saat melihatku berdiri di jendela kamar. Sontak Alsan membalikkan tubuhnya dan menatapku. Senyumnya selalu manis dengan matanya memancarkan aura kesejukan. “Selamat pagi sunshine”. Ujarnya tersenyum kemudian menunjuk ke atas. Aku tahu itu pasti bukan untukku. Aku hanya tersenyum menatap arah lain.
“Kamu ngapain pagi-pagi disini?”. Tanyaku sembari melipat tangan.
“Motorku rusak dan aku butuh teman naik angkot”. Jawabnya lembut.
“Pergi kemana mobilmu?”.
“Mobilmu? Al punya mobil? Wow”. Jawabnya meledek.
“Iya aku punya mobil”. Jawabku ketus dan berbalik untuk berdandan.

Aku mendengar nenek berteriak nama Alsan dan menyuruhnya untuk sarapan. Aku terkadang berfikir bahwa Alsan sebenarnya cucu nenek bukan aku. Aku keluar dari kamar dan menuju tempat makan. Aku melihat Alsan sedang lahap makan omurice buatan nenek.

“Pelan-pelan Al”. Ujarku dan Alsan hanya mengangguk.
Aku makan irisan singkong rebus yang di taburi keju. Kami berdua sarapan tanpa ada pembicaraan apapun. Setelah selesai sarapan, aku mencuci piring sedangkan Alsan tampak tertidur. Saat terbaik menyukai seseorang adalah memandangi wajahnya bebas saat tidur, benar-benar indah.

Aku membangunkan Alsan setelah selesai cuci piring. “Jangan tidur.. ayok berangkat”. Ajakku sembari menepuk lengannya.
“Aku lagi mikir”. Keluhnya sembari berdiri dan mengambil tas lalu berjalan duluan. Aku hanya menggelengkan kepala dan mengambil tas di kamar. Kami kemudian salim dengan nenek dan Pak Toto lalu mereka kompak menyemangati Alsan. Aku hanya diam tanpa bertanya, mungkin karena Alsan baru pertama kali berangkat kuliah naik angkot.

Kami berjalan bersama menuju halte di depan gang. Aku merasakan Alsan sedari tadi seperti kurang nyaman, tapi aku tidak tahu kenapa.
“Rasanya menyenangkan jalan seperti ini”. Ujarnya memecahkan suasana hening sembari menatapku dan kami tersenyum bersama. Perumahan daerah rumahku termasuk kompleks. Rumah-rumah disini dipagari dan penghuninya baru ada ketika pagi sekali atau malam sekalian.

Angkot langsung kami dapatkan saat kami baru sampai depan gang. Alsan bahkan menyuruhku duduk dekat pintu mobil karena didalamnya semua anak laki. Alsan duduk disampingku dengan menempelkan lengannya di lenganku seolah menjagaku dari pandangan-pandangan laki-laki yang sedari tadi memandangiku. Sepanjang perjalanan kami hanya diam dan tanpa aku sadari sudah sampai di kampus. Kami turun dan membayar adalah Alsan.

“Nanti aku ganti”. Ujarku sembari kami berjalan.
Alsan hanya diam saja. Kami lalu menikmati pepohonan yang sekarang sedang menggugurkan daun dan hanya menyisakan batang, kecuali pohon beringin. Alsan memandangi kanan kiri seakan sedang mengecek keadaan tanaman satu per satu.
“Aku suka sekali jalan turunan menuju jurusan kita”. Ujarku memerhatikan ke depan memecahkan tingkahnya yang aneh.
“Karena banyak pohon?”.
“Seolah mereka juga berbicara dengan kita saat berjalan bahkan tersenyum.”. Jawabku kemudian menghirup udara. “Aromanya segar sekali”.
“Aku juga sedih jika harus melewati jalanan gersang tanpa tanaman. Bagaikan rumah mewah tanpa kebahagiaan”.
Perkataan Alsan membuatku langsung menatapnya dan kami berhenti. “Aku ke jurusan dan kamu ke rumah kaca. Sampai bertemu nanti”. Ujarnya sembari memegang pundakku kemudian pergi. Aku masih memerhatikan Alsan berjalan meninggalkanku.

Hari ini aku pengamatan, dan pengamatan selalu butuh konsentrasi dan tenaga lebih. Aku menyiapkan peralatan pengamatanku seperti alat tulis, meteran, kain, dan kamera. Aku menggantungkan kain di pintu sebagai latar belakang untuk foto, aku menggunakan kain warna merah. Aku memiliki pengamatan 40 tanaman, dan pengamatan umum yang biasa dilakukan adalah mengukur tinggi tanaman, lebar tajuk, jumlah daun, dan jumlah tunas.

“Halo Al”. Sapa Ibu Sakinah saat aku sedang pengamatan, aku bergegas menghampiri beliau kemudian salim.
“Ibu perhatikan tunas tanaman sudah lebih 1 cm, nanti sore aplikasi lagi”. Ujarnya dan aku hanya mengiyakan.
“Ibu mau nyiram?”
“Iya Ibu mau nyiram tapi kayaknya yang diluar masih basah”
“Semalam hujan Bu”
“Lagi musim hujan, kamu jaga kesehatan jangan sakit”.
“Baik bu”. Jawabku lalu kembali melakukan pengamatan.

Tanaman penelitianku sampai sekarang masih belum berbunga, padahal sudah satu bulan sejak aplikasi, akhirnya Ibu Sakinah memintaku melakukan aplikasi ulang yang sebelumnya sudah aku pangkas lagi. Aku merasa sedih jika tanamanku masih saja belum berbunga, dilema penelitian sedang aku rasakan. Teman-temanku sendiri sudah hampir akan selesai semua.

“Al, ini tomatnya sudah banyak berbuah, jika mau ambil saja”. Ujar Ibu Sakinah saat sedang menyiram tanaman.
“Dirumahku, nenek juga menanam bu”. Jawabku.
“Wah rajin neneknya tapi bawa saja biar bisa nyicip”.
“Baik bu”.
Akhinya kami berbincang tentang bagaimana Ibu Sakinah tidak tahan jika tidak menanam, sama dengan nenek walau sudah tua tapi masih ingin saja menanam. Tanaman itu seperti sudah seperti anak-anaknya sendiri. Mereka tumbuh indah dan menyejukkan hati, tidak ada hal membahagiakan selain panen hasil sendiri dan menikmati dengan puas. Kami baru keluar dari rumah kaca setelah selesai. Kami berpisah di tengah perjalanan, aku pamit kepada Ibu Sakinah dan berjalan menuju kantin, tetapi ponselku kembali berdering dan itu dari Martin.

Martin : Kamu dimana?
Aku : Aku di kampus
Martin : Coba tengok kanan

Aku melihat Martin sudah berdiri di samping mobilnya yang terparkir di pinggir jalan. Aku langsung menghampirinya. “Ada apa?”. Tanyaku datar dan ternyata Martin juga ingin mengajakku makan untuk membalas perbuatanku yang telah menjaganya saat sakit. Aku pikir terima saja karena menolak rejeki itu tidak baik. Aku langsung naik ke mobilnya yang dibukakan pintu olehnya.

Aku dan Martin makan dekat jalanan kampus. Hal yang paling membosankan bagiku mengobrol dengan Martin membicarakan mobil, aku sama sekali tidak tahu tentang itu karena bagiku mobil tak harus bagus tapi memiliki mesin yang berkualitas seperti mobil bibiku di Jakarta, mobil tua tapi tenaga masih muda. Aku menikmati minumanku setelah makan dan kemudian mengecek ponsel. Aku benar-benar bosan dengan Martin. Bila saja bukan karena dulu aku memperlakukannya sangat acuh.

“Astaghfirullah!!!”. Teriakku kemudian mengambil tas dan berlari meninggalkan Martin tanpa berpamit. Aku keluar dari tempat makan kemudian mencari angkot menuju kampus. Sampai kampus, aku berlari sekuat tenaga menuju ruang seminar. Nafasku benar-benar tersengal-sengal saat sampai depan kelas seminar. Aku dapati sudah banyak orang membawa bunga dan hadiah termasuk Angel dan Putri. Aku melihat Rico, Andi, dan Genta memeluk Alsan, tanpa pemberitahuan ternyata hari ini Alsan sidang. Langkah pelanku menghampirinya tanpa membawa apa-apa.

Bagaimana aku tidak menyadari hari ini dia mengenakan setelan hitam putih tanpa bertanya, bodohnya aku!!!..

“Al, kamu kemana saja hari ini?”. Tanya Putri dan aku hanya bilang bahwa setelah bimbingan aku shalat dulu kemudian ketiduran, karena memang makan tadi aku shalat terlebih dahulu dan ponsel dalam keadaaan nada diam jadi tidak tahu bahwa Putri sudah mengirim pesan sedari tadi.

Setelah anak laki-laki berpelukan dan berfoto bersama, kemudian kami semua kompak foto bersama. Saat aku akan mengucapkan selamat, tiba-tiba Rahma datang dan memberi ucapan selamat duluan. Aku hanya diam terpaku, Angel dan Putri menarikku untuk foto bertiga dengan bunga yang akan diberikan kepada Alsan.

“Aku tidak membawa apa-apa”. Gumamku kepada Angel dan Putri. Angel dan Putri diam sejenak kemudian bertanya bahwa memang aku tidak diberitahu Alsan, bahkan ternyata Angel dan Putri membantu menyiapkan semuanya dan memang sengaja aku tidak diberitahu karena Alsan yang akan memberitahu, tapi nyatanya justru aku yang diberikan kejutan.

Bukan pikiranku saja yang tak tenang karena keterkejutan ini, tetapi hatiku juga tak tenang melihat Alsan dan Rahma foto bersama, mereka asik mengobrol hingga akhirnya Andi memanggil kami anak perempuan untuk foto bersama Alsan. Kami bertiga kemudian foto bersama Alsan dan Angel tampak menggeser Rahma sebelum kami foto, Rahma nampak meredam emosinya kemudian pamit dengan Alsan. Alsan hanya mngucapkan terima kasih dan Rahma pergi, tapi langkahnya seakan ragu seperti ingin ditarik kembali.

Putri dan Angel melihat hasil foto yang diambil Rico dan menyisakan aku dan Alsan. Aku ingin mengucapkan selamat kepada Alsan tetapi kemudian Andi datang menyuruh kami untuk foto berdua, sontak Alsan melingkarkan lengannya di pundakku. Aku terkejut membulatkan mataku hingga tak fokus di foto. Beberapa kali Andi mengambil foto kami karena katanya wajahku tampak tegang hingga akhirnya Alsan memanggilku dan tersenyum menunjukkan barisan giginya, sontak aku juga tersenyum dan saat itu Rico mengambil gambar kami. Aku pikir hasil fotonya bagus dan waktu Andi menunjukkannya memang bagus. Lagi dan lagi sebelum aku ingin mengucapkan selamat, anak-anak UKM Seni datang menyerbu Alsan. Aku melangkah mundur menjauhi mereka. Aku pamit kepada Angel dan Putri karena hari ini aku harus menemui Ibu Sakinah, jika aku mengatakan akan aplikasi maka hanya akan merepotkan mereka saja.

“Al…”. Panggil lirih Angel.
“Ada apa Ngel?”.
“Minggu depan aku sidang”.

Oh my God!!! Satu-satu temanku sudah akan selesai, sedangkan aku masih disini saja..

“Jangan lupa bantuin aku”. Ujarnya kembali dan aku hanya tersenyum sembari mengangguk..

Petir apalagi ini Tuhan…

Aku kembali melanjutkan langkahku dengan kegalauan mahasiswa tingkat akhir yang mulai menimpaku. Suasana sudah sore hari dan ruangan dosen tampak sepi, aku berjalan menuju ruangan Ibu Sakinah. Suasana benar-benar seperti di rumah sakit kosong ketika malam yang tampak gelap dan sunyi. Aku selalu tak berani membalikkan tubuh ketika berjalan hingga akhirnya aku berbelok ke kiri menuju ruangan Ibu Sakinah.

“Allahuakbar!!!!”. Betapa terkejutnya aku melihat Alsan berdiri disana dan tertawa melihatku.
“Kamu itu ngapa sendirian kayak gak punya temen”. Ujarnya masih tertawa, sedangkan aku masih mengatur nafas.
“Aku pikir lebih baik aku sendiri. Kamu bukannya tadi masih foto-foto?”.
“Ah foto sekali juga cukup”.
“Kalo sekali gak bagus gimana?”.
“Ya foto lagi, apa susahnya”.
“Itu yang aku maksud”.

Alsan hanya berjalan duluan, ia menemaniku membuat larutan di ruangan Ibu Sakinah. Alsan terus mengajakku berbincang dan bertanya perhitungan membuat larutan. Karena asik berbincang akhirnya aku lupa berapa larutan yang harus aku buat karena terlalu fokus padanya. “Alsan mah aku lupa gara-gara kamu tanya”. Keluhku dan Alsan hanya tertawa sembari meminta maaf. Alsan membiarkanku fokus membuat larutan.

Kami mengaplikasikan larutan bersama di rumah kaca pada tanaman sesuai dengan volumenya. Aku senang sekali memerhatikan Alsan diantara ruang tangkai tanaman-tanaman ini.
“Jika tanaman ini belum berbunga, berarti kamu belum memiliki sense of feeling”.
“Apa itu Al?”.
“Perasaan peka satu sama lain, kamu juga harus rajin mengajak mereka mengobrol seperti anakmu sendiri”.
“Sama seperti apa yang dilakukan Pak Toto?”. Tanyaku sembari menegakkan tubuh.
“Benar sekali. Tanaman juga sama seperti kita, jika hanya sebelah pihak yang menanggung rasa mungkin perkembangannya juga tidak sempurna”.
“Jika kedua belah pihak saling memiliki kepekaan, pasti perasaan yang tumbuh sempurna terhadap tanaman”. Sanggahku sembari tersenyum dan ia diam sejenak.

“Kamu kemana tadi kok datang telat?”. Mataku langsung berjalan kemana-mana, ketara sekali aku tak pandai berbohong.
“Aku masih menghadap Ibu Sakinah dan kamu juga tidak bilang jika sidang”.
Alsan hanya diam dan berbicara pelan. “Kamu saja tidak peka hari ini aku pakai hitam putih”. Jawabnya sembari aplikasi dan aku pun kembali aplikasi.
“Maaf”. Ujarku pelan dan tidak tahu Alsan mendengar atau tidak.

“Penelitian itu boleh keliru Al, tapi gak boleh bohong”.
Aku hanya menjawab iya. Aku tidak tahu jika tanpa Alsan mungkin rasanya sepi. Benar kata orang bahwa saat penelitian seperti ini kita butuh teman agar tak merasa lelah sendirian dan ada teman diajak ngobrol untuk penghilang penat, bahkan saat tiba-tiba aku panik seperti ini.
“Alsan udah maghrib”. Teriakku dan Alsan tampak masih tenang aplikasi. “Cepat selesaikan, dari tadi kamu kebanyakan melamun”. Ujarnya yang membuatku mengerucutkan bibir dan kemudian kami menyelesaikan dengan cepat. Alsan bekerja dengan cepat dan tepat, sedangkan aku antara hati-hati dan lambat.

Aku menutup pot tanaman dengan koran, sedangkan Alsan membereskan alat dan dicuci, kemudian disusun kembali pada tempatnya. Aku mencuci tanganku lalu kami mengunci rumah kaca dan kembali berjalan. Kami berjalan menuju laboratorium kultur jaringan karena katanya barang-barang Alsan masih ada yang disana.

“Al, tadi aku telfon nenek kalau kamu pulang agak malam”. Ujar Putri saat kami bertemu di depan laboratorium dan aku hanya mengucapkan terima kasih. Pantas saja sedari tadi ponselku baik-baik saja tanpa kebisingan. Rico keluar dengan tumpukan bunga dan hadiah sidang Alsan. Putri dan Alsan langsung membantu Rico mengeluarkan semuanya.

“Al kayaknya loe naik angkot sama Alsan pulangnya, soalnya mobil gue udah gak muat. Gue udah janji sama Andi nganterin Putri pulang”. Ujar Rico.
“Yo dah Co gak apa-apa, biasanya juga naik angkot”.
“Yok kita maghriban dulu sebelum pulang”. Ajak Putri dan kami langsung menuju mutan atau lebih tepatnya musholla pertanian.

Kami menjalani ibadah bersama dengan imamnya adalah Alsan, lalu setelah selesai kami berpisah. Aku dan Alsan pulang naik angkot, sedangkan bawaan hadiah Alsan dititipkan di mobil Rico. Aku dan Alsan berjalan bersama setelah turun dari angkot.

“Kamu jangan kebiasaan suka melamun”. Ujar Alsan menatapku.
“Aku juga tidak tahu mengapa begitu”. Jawabku.
Alsan berhenti dan aku ikut menghentikan langkahku. “Aku gak mau kamu melamun begitu, kayak hidupnya gak bahagia”. Ujar Alsan dengan wajah sendu.

Aku hanya diam dan melanjutkan berjalan diikuti Alsan, aku melihat dari jauh seperti mobil Martin terparkir di depan rumah.
“Al!!!”. Teriakku dan Alsan langsung menatapku ikut berhenti.
“Ada apa?”.
Aku langsung menarik lengannya dan membawa kembali ke arah halte, tapi Alsan tiba-tiba menyingkarkan tanganku dengan lembut dan berbalik berjalan menuju rumahku. “Akan tidak sopan jika tidak bertemu dengan nenek”.

“Nenek gak di rumah Al”. Ujarku penuh penekanan.
“Ya terus kenapa?”.
“Aku mau mandi nanti kalau kamu dalam rumah jadi curigaan tetangga”.
Alsan mengangguk mengerti lalu berbalik ke halte tanpa pamit.
“Hati-hati Al!!!”. Teriakku.
Alsan hanya melambaikan tangan memunggungiku.

Maaf aku berbohong..

Aku berjalan perlahan menuju rumah dan Martin sudah menunggu di ruang tamu bersama Nenek terlihat dari pintu arah luar. Aku menghela nafas dan masuk rumah dengan salam. “Assalamualaikum..”

“Walaikumsalam”. Jawab Nenek dan Martin. Aku langsung salim dengan nenek dan duduk dekat dengan nenek.

“Nak Martin sudah dari tadi disini”. Ujar nenek tersenyum padaku, nenek tersenyum bukan karena ada Martin namun pemberian Martin yaitu satu pot Tanaman Alavender. Ini terlihat berdiri di sebelah meja ruang tema yang diikat pita pada potnya. Nenek lalu pamit meninggalkan kami.

“Kamu ngapain kesini?” Tanyaku saat Martin sedang meminum teh hangatnya.

Martin langsung menatapku namun tak meninggalkan kegiatannya saat sedang minum. Kami bertatapan sejenak tanpa suara. sepertinya sudah waktunya aku jujur bahwa kedatangannya menggangguku terutama perasaanku, aku tidak ingin berbohong lagi dengan Alsan.

%d bloggers like this: