Catatan Akhir Kuliah – Part 5

Suara alarm ponsel berbunyi dengan lantang subuh ini, aku terbangun dan mematikannya, lalu membuka jendela kamar. Suara orang-orang berjalan menuju masjid terdengar hingga jendela kamarku. Suara langkah kaki yang lembut dengan obrolan tipis tentang hal-hal sekitar. Suara knalpot motor yang lewat mengantarkan sebagian orang untuk pergi ke pasar.

Aku keluar rumah setelah shalat subuh dan berjalan-jalan sebentar di sekitar kebun sembari menikmati udara pagi. Udara segar pagi hari ini seperti sihir, sihir yang akan membuatmu merasa kedamaian dari penatnya hidup, sihir yang akan membuatmu bersyukur tentang kehidupan ini. Jika kamu kurang bersyukur, itu pasti karena kamu kurang bangun pagi.

“Al!!!”. Teriak nenek dari dapur.
“Iya nek”. Aku langsung ke dapur lewat pintu belakang.
“Kenapa nek?”.
“Kamu cepet nyapu sana, katanya kuliah pagi”.
“Iya nek”.

Pagi ini aku hanya menyapu rumah karena kuliah pagi, kuliah pagi adalah hal yang luar biasa. Luar biasa untuk menahan dingin ketika mandi.
Setelah mandi, aku berdandan di kamar dan terdengar suara Pak Toto bernyanyi sembari menyiram tanaman, bahkan nyanyiannya membuat tanaman ikut menari-nari dengan percikan air layaknya pengantin yang dihujani kelopak bunga. Sesekali aku mengintip sembari tersenyum sendiri.

“Lihat kebunku‚Ķ penuh dengan bunga‚Ķ ada yang putih, dan ada yang kuning‚Ķ”.
“Pak toto yang bener merah!”. Teriakku dari jendela kamar.
“Sengaja kok mbak Al”. Jawab Pak Toto.
“Huuuu dasar”.
Pak Toto tertawa dan kembali bernyanyi.

Pagiku tak sempurna tanpa nyanyian Pak Toto. Pak Toto seperti sengaja mengajarkan aku lagu-lagu tradisional yang sedikit terlupa dan lagu anak-anak yang mulai tenggelam. Pak Toto pernah bilang, mungkin Pak Toto tidak bisa mewariskan harta untuk anak cucu, tapi Pak Toto akan terus meneruskan warisan seni budaya pada anak cucu agar mereka tahu bahwa hidup tanpa seni seperti akal pikir tak berbudaya, jadinya datar tanpa dinamika yang bisa menjalankan hidup dengan pikiran terbuka.

“Al!!! Al‚Ķ”.
“Iya nek”. Suara teriakan nenek dari arah dapur memanggilku membuatku langsung bergegas menuju dapur.
“Ada apa nek?”.
“Kamu sudah selesai siap-siapnya?”.
“Udah nek”.
“Ya udah, kamu bawa ubi ungu rebus di atas meja untuk sarapan dikampus, sekarang minum teh dulu”.

Aku duduk dan menatap kotak makanan berwarna hijau terbuat dari plastik yang berisi ubi ungu sembari meminum tehku, “Nek, kok ubinya banyak banget?”.
“Itu hasil kebun kita kemarin panen, sekalian kamu bagi sama temen-temen bagaimana rasanya, soalnya itu kemarin nenek liarkan saja”.
Aku hanya mengangguk sembari pelan-pelan meminum tehku yang panas.
Nenek memang hobi berkebun, bukan hanya sekedar tanaman hias tapi tanaman sayuran dan buah. Nenek suka sekali memintaku membagikan hasil panennya untuk teman-teman dengan alasan untuk percobaan, padahal nenek suka sekali berbagi agar teman-temanku terpacu menanam di rumah dan memakan makanan yang lebih sehat.

“Yo dah, Al berangkat ya nek”. Ujarku sembari berdiri dan salim.
“Hati-hati harus makan dulu sebelum mulai kuliah”.
“Iya nek”.
Aku keluar rumah dengan tas ransel andalanku dan kotak makanan yang aku jinjing lalu salim dengan Pak Toto yang sedang berada di kebun.
“Tangan Pak Toto basah Mbak Al”.
“Gak apa-apa”.

Aku berjalan sampai halte dekat rumah dan naik angkot. Hal yang paling aku suka dari naik angkot ketika bertemu anak-anak sekolah yang sedang asik berbincang terutama membicarakan tentang orang yang mereka suka, masa sekolahku berbeda dengan mereka, aku pendiam dan memiliki kekasih pun hubungan kami harus tetap diam-diam. Aku dan dia sudah tidak bersama, namun momen masa sekolahku indah bersamanya.

Aku turun di halte kampus dekat rektorat. Aku berjalan dengan semangatnya sembari merasakan hembusan angin pepohonan yang sejuk, seakan ikut menyambut dan menyemangatiku untuk berjalan. Aku sampai depan pintu kelas dan mengatur nafasku menatap jam tanganku. Ini sudah jam tujuh, suasana kelas sangat tenang pasti kuliah sudah dimulai. Aku sudah mempersiapkan alasan jika ditanya kenapa telat yaitu menemani supir angkot beli bensin dulu. Aku mengetuk pintu kemudian masuk dengan pelan dan yang terjadi diluar dugaan.
“Eaaaak!!!”. Sontak anak-anak.
Anak-anak tertawa melihatku dengan wajah yang sudah memasang beribu alasan, mereka sengaja diam untuk mengerjaiku. Aku hanya menghela nafas kemudian duduk.

“Itu apa Al?”. Tanya Angel melihatku membawa tas jinjing saat akan duduk.
“Ini ubi ungu rebus”.
”Wah kebetulan gue lapar”. Celetuk Rico sambil membuka kotak makanan.
Angel memukul pundak Rico yang duduk disampingnya dengan buku.
“Kenapa sih Ngel?”.
“Belum ditawarin”.
“Al. Rico boleh minta?”.
“Ambil aja kita makan bareng-bareng”. Jawabku duduk samping Putri yang bersebelahan dengan Angel.
“Thanks Al”. Rico makan begitu lahapnya.
“Gue juga laper nih, minta”. Ujar Genta kemudian mengambil makanan. Genta kemudian menyuapi Andi.
“Geli sih”. Ujar Putri sinis.
“Mau disuapin juga?”. Tanya Andi dengan tatapan tajam.
“Enggak”. Jawab Putri mengalihkan pandangan ke tempat lain.
“Just so so”. Sanggah Andi.
“Loe itu”. Jawab Putri tak terima.

Aku merasa tidak tenang disini, aku melihat sekitar. Alsan sedang duduk di sudut lain, dia sedang mengetik entah apa yang sedang dia kerjakan. Tapi satu yang pasti, ada Rahma disampingnya sedang menemaninya. Kue bolu yang ada di kotak makanan itu pasti dari Rahma, maklum jika Alsan tidak kesini karena pasti ubi unguku kalah dengan rasa bolunya Rahma.

“Kalau makan rame gini rasanya benar-benar nikmat”. Celetuk Angel mengalihkan pandanganku.
“Ya jelas nikmat ada gue”. Jawab Rico dengan nada sombongnya. Angel hanya menaikkan setengah bibirnya menatap Rico dan Rico masih lahap dengan ubinya.
“Kirain gak ada loe enggak rame”. Celetukku sambil tertawa, tetapi sial! Tidak ada yang tertawa.
“Krik krik krik”. Ujar Rico.
“Kacang mahal, kacang mahal”. Sanggah Alsan datang.
Alsan datang dan mengambil ubi, dia kemudian duduk disampingku dan makan.

“Nenek panen ya?”. Tanya Alsan sembari makan dan meletakkan tas ranselnya.
“Iya”. Jawabku pelan.
“Bilangin sama nenek kalau enak dan terima kasih”.
“Iya nanti aku sampaikan”.
“Kami juga ya Al”. Sontak yang lain.
“Siap”. Jawabku tersenyum kemudian kembali makan.
“Duh haus”. Ujar Andi.
Putri mengambil botol minuman, sontak Andi mengambilnya dan habis diminum Andi, Genta dan Rico. Putri hanya tertegun kemudian aku mengambil air minum dari tasku dan ku berikan pada Putri. “Thanks Al”. Jawab lesu Putri kemudian dia meminumnya.

Anak laki-laki memang seperti itu, jika merasa sudah dekat. Barang-barang milik anak perempuan seperti milik mereka juga tanpa dosa atau merasa beban sedikitpun. Tapi anehnya mereka tahu batasan mana yang harus dilanggar atau berbalik arah untuk menjaga perasaan anak perempuan agar tetap nyaman dekat mereka.

“Pendaftaran duta kampus udah dibuka, siapa tau kalian mau daftar”. Ujar Rico.
“Boleh tuh tapi disini yang pinter ngomong kan Rico sama Angel”. Saran Putri dan Angel tertegun.
“Gue mau daftar tapi gue lagi seneng belajar gamelan, gue gak tega aja ninggalinnya nanti”. Jawab Angel.
“Kayak yakin diterima”. Ujar Alsan meledek Angel dan Angel hanya memincingkan matanya.
“Kalo gitu loe coba daftar aja Al, katanya loe pingin buat lingkungan kampus asri dengan banyak tanaman hias dan pentingnya menjaga pohon, lewat duta ini loe bisa mengapresiasikan apa yang ada di pikiran loe, nanti loe gue bantuin”. Saran Rico kepada Alsan.
“Gue gak minat sama kayak gituan, mendingan loe aja biar keinginan gue terealisasi melalui loe, gimana?”. Tanya balik Alsan.
“Kalo nanti Rico jadi Duta lebih enak, jadi kalau proposal hidroponik tembus, nanti ke depannya bisa buat kegiatan rutin”. Saran Putri.
“Ya udah kalo gitu gue nyerah, gue yang daftar, nanti kalian bantuin gue ya”. Ujar Rico kepada kami.
“Emang dasarnya loe pingin daftar aja”. Celetuk Angel dan kami semua tertawa.
“Ya kan gak enak kalau sendirian”. Jawab Rico tidak terima.
“Nanti kalau temen loe diterima, loe gak gimana?”.
“Ya berarti bukan rejeki”.
“Ikhlas?”.
“Gak”. Jawab Rico lirih.
Kami semua tertawa.

“Oh ya Ndi, loe belum cerita sama Putri kalau proposal kita tembus?”. Tanya Alsan.
“Apa? Tembus? Demi apa?”. Tanya Putri dengan antusiasnya.
“Demi kamu”. Jawab Andi. Putri mengatupkan mimik wajah senangnya menjadi sendu karena di jawab tidak serius.
“Makanya nanti waktu pembuatan kalian perempuan bantuin, biasanya bapak-bapak suka ngeliatin cewek masih muda”. Ujar Rico.
“Maksud loe?”. Tanya Angel sinis menatap Rico.
“Maksud Rico kalian bantuin kami untuk ngebuktiin bahwa mahasiswi pertanian juga jago di lapang”. Sanggah Alsan.
“Maksud gue gitu”. Ujar Rico menatap Angel dengan senyuman meledek.
“Al ikut ya? Nanti kita izin nenek”. Ajak Putri.
Aku hanya mengangguk kemudian Pak Agus datang. Andi dan Genta yang berada di depan kami langsung pindah ke belakang kami. Alsan masih duduk disampingku.

Aku tidak tahu kenapa akhir-akhir ini aku merasa senang sekali dekat dengan Alsan, padahal dia sedang tidak memberikan perhatian lebih atau hanya tersenyum padaku. Ini pertama kali bagiku, aku tidak bisa konsentrasi dalam kuliah. Aku hanya terus memerhatikan Pak Agus, sembari curi-curi memincingkan bola mataku pada Alsan yang jelas-jelas dia tidak akan menatapku. Dia sangat konsentrasi memerhatikan Pak Agus tanpa bergerak sedikitpun.

Pak Agus menjelaskan materi di kursinya menggunakan proyektor. Beliau itu dosen yang unik, unik waktu bagian mahasiswa jika telat.
Tok..Tok..
Suara ketukan pintu terdengar, ternyata Indra datang telat lagi.
“Wah Si Indra luar biasa, dia udah telat 10 menit dari Pak Agus masuk”. Gumam Putri.

Indra menghampiri Pak Agus yang terlihat menatap tajam Indra. Indra tetap berjalan santai kemudian salim.
“Saya sudah telat, kamu lebih telat lagi”. Ujar Pak Agus dengan nada menahan emosi.
“Saya tadi habis nganterin pacar saya berobat pak”.
“Oh begitu. Baiklah silahkan duduk”.
Ya begitu uniknya Pak Agus. Beliau begitu menghormati wanita. Beliau tidak akan memberikan toleransi walau sakit sekalipun, tapi urusan wanita dia sangat menghargai dan memberikan izin begitu saja. Karakter ini hanya pada Pak Agus, pada dosen lain mungkin Indra sudah diusir keluar, bahkan mungkin dimaafkan adalah mukjizat baginya.

Posisiku masih tidak aman sekarang, aku menutupi penglihatan kiriku dengan aku tarik semua rambutku dan aku gerai ke kiri. Ini langkah jitu agar diriku tak diam-diam mencuri pandangan.

Jam kuliah sudah selesai. Anak-anak mulai merapihkan alat tulis dari meja. Aku masih tetap tenang dengan rambut tergerai ke kiri. Aku menunggu Alsan berdiri dan pamit duluan kemudian baru beres-beres. Putri dan Angel masih sibuk mengobrol dengan Rico. Ini Alsan tidak bergerak juga. Aku kemudian tanpa sadar menengok kesamping kiri karena merasa ada yang menyisir lembut rambutku dan ternyata itu Alsan. Mata kami berhadapan, langkah tangan kanan Alsan sedang menyisir terhenti antara anakan rambutku.

Apa yang sedang Alsan lakukan sebenarnya?

Aku tersenyum menahan malu dan Alsan menurunkan bola matanya ke bawah dan melepaskan tangannya pelan.

Apa dia malu?

Aku masih termenung menatapnya ke bawah kemudian dia menjitak dahiku dengan dua jarinya yaitu antara ibu jari dan jari telunjuk.
“Auuuu”. Sontak aku memegang dahiku. “Sakit Al”.
Alsan hanya menunjuk ke bawah dengan dagunya. Aku kemudian menatap tas hitamnya diatas meja dan terdapat putih-putih.

Ya Allah itu kan ketombe. Jadi! Dia tadi?

Aku masih menatap tasnya kemudian dia menepuk tasnya dengan jemari tangannya untuk membersihkan putih-putih. Aku hanya diam tertegun karena merasa malu. Bukan malu karena ketombe, karena dua kalinya aku sudah senyum terlalu percaya diri depan dia.

Ah malu!!! Rasanya pingin cepat pulang.

Alsan kemudian berdiri dan menghampiri Angel. Alsan menyerahkan flashdisk yang berisi tentang proposal progja atau program kerja yang terbaru berjudul pengenalan musik tradisional sejak dini kata Alsan tadi. Alsan kemudian keluar menyusul Rico, Andi, dan Genta yang sudah berjalan duluan menuju kantin.

“Al!!!”.
“Al”. Jawabku kaget.
Aku begitu kaget karena Angel memanggilku tepat di saluran gendang telingaku di depanku.
“Alsan?”. Tanya Angel. “Loe sakit ya? Dari tadi dipanggilin gak respon, mau gue beliin air mineral?”. Lanjut Angel khawatir.
“Gak Ngel, aku gak apa-apa”. Jawabku mengatur pikiranku yang kacau.
“Yo dah yok kantin”. Ajakku.
Aku langsung membereskan alat tulisku kemudian berjalan bersama Putri dan Angel menuju kantin. Aku bersyukur mereka tidak tahu bahwa jawaban kagetku tadi bukan memanggil namaku, tapi memang nama Alsan.

“Si Alsan apa gak capek ya ngerjain dua proposal dalam satu bulan ini?”. Tanya Putri saat kami sedang berjalan menuju kantin.
“Emang proposal apa aja?”. Tanyaku balik.
“Ya prososal kerja ilmiah sama progja UKM, Al”. Jawab Putri dan aku hanya mengangguk.
“Kalau capek sih gak tau, kalau proposal karya ilmiah kan udah bagi tugas sama mereka. Sedangkan proposal progja, itu kan emang program Al sendiri. Lagipula Al itu gak bisa diem, maunya kerja terus”. Sanggah Angel.

Aku tidak tahu kenapa perasaanku jadi sendu, apa tidak apa-apa Alsan yang tinggal sendirian begitu keras bekerja? Bagaimana jika dia lupa makan bahkan sakit.

¤¤¤¤

Pagi ini setelah selesai beres-beres rumah, aku duduk di teras belakang dengan keadaan rambut tergerai ke depan. Aku menggaruk kulit kepalaku untuk mencari serbukan ketombe yang tinggal di pangkal rambut. Aku duduk di depan cermin besar yang aku sandarkan di pilar teras agar kulit kepalaku dapat terlihat mata.
“Kamu lagi apa?”. Tanya nenek berdiri dibelakangku.
“Nyari ketombe nek, semua pencuci rambut gak ada yang cocok”.
Nenek kemudian duduk dan membantu membersihkan ketombe.
“Kamu ini bukan gak cocok pencuci rambutnya tapi jarang dicuci”.
Aku hanya diam karena perkataan nenek memang benar. Aku jarang mencuci rambutku bukan karena malas atau pulang kuliah sore, itu karena aku terlalu sering asik bermain ponsel, menonton tv, dan membaca novel sehingga lupa mandi sore. Saat malam mencuci rambut itu tidak baik, karena keadaan kulit rambut yang lembab ketika akan tidur akan menyebabkan sakit kepala bagiku. Aku tidak memiliki alat pengering rambut di rumah. Saat nenek sedang membersihkan ketombeku, tiba-tiba ada suara motor di depan.
“Nenek ke depan dulu”. Ujar nenek sembari berdiri menuju ke depan.
“Iya nek”.

Aku menundukkan kepalaku mencari bagian di tengah.
“Ini kalau bukan gara-gara Alsan aja, emang ngeselin itu orang. Sehari gak buat kesel gak bisa kayaknya”. Gumamku.
Nenek kembali duduk dan memijat kepalaku. Aku merasa aneh karena dipijat dan ada sesuatu yang diberikan di kepalaku, aku memegang cairan yang diberikan pada anakan rambutku dan melihatnya, ternyata itu gel lidah buaya. Aku punya tanaman lidah buaya pot di kebun, kata nenek untuk masker wajah dan rambut.
“Makasih ya nek”. Ujarku senang.
Nenek masih diam dengan memijat-mijat rambutku, aku merasa nyaman dipijat oleh nenek, walau beliau orangnya tegas tapi memiliki sisi lembut ketika aku kesusahan.
“Oh ya nek, tadi yang datang siapa?”.
Nenek masih diam dengan pertanyaanku, akhirnya aku mengangkat kepalaku dan menatap kaca di depanku.

“Alsan?”.
Aku terkejut ternyata yang dari tadi memijat kepalaku adalah Alsan. Alsan sontak menatapku di kaca, mata kami saling berhadapan, aku mengalihkan pandanganku ke arah lain . Alsan kemudian berdiri tanpa menanggapi keterkejutanku, kemudian nenek datang.
“Pupuknya diletakkin dimana?”. Tanya nenek pada Alsan.
“Aku letakkin di bawah pohon nek”. Jawab Alsan.
“Baiklah”.
“Apa? Pupuk?”. Tanyaku pada Alsan.
Alsan hanya mengangguk.
“Kamu tadi habis megang pupuk?”. Tanyaku kembali sembari memegang rambutku.
“Ada apa Al?”. Tanya nenek bingung.

Aku benar-benar tidak percaya ini.

Aku dan Alsan hanya diam saling bertatapan. Nenek kemudian menyuruhku dan Alsan untuk sarapan. Alsan kemudian mengikuti nenek menuju dapur dan aku masih duduk terdiam tak percaya. Aku tidak percaya ini, Alsan memijat kepalaku setelah membawa pupuk. Aku mengambil kaca dengan rasa kesal dan masuk dapur. Aku melihat Alsan dengan santai mencuci tangan dan duduk.
“Ayok Al makan”. Ajak Alsan.
Aku menengok ke arahnya setelah memasang cermin besar di samping pintu kamar mandi yang bersebelahan dengan meja makan.

Aku benar-benar tidak percaya ini.

Alsan makan dengan lahapnya kemudian aku menyusul duduk didepannya. Aku masih memasang wajah kesalku, tapi Alsan tetap tidak peka dengan kekesalanku sekarang.
“Nak Alsan, Al ini tidak bisa kalau tidak sarapan. Dia punya asam lambung, jadi harus makan walau sedikit. Makanya nenek tanam ubi, jadi kalau kuliah pagi bisa makan ubi”. Ujar nenek sembari mengambil gunting pangkas di lemari.
“Itu bagus nek, selain ubi ungu mengurangi asam lambung, ubi ungu itu juga banyak vitamin yang dapat mengatasi rambut kering sehingga tidak menyebabkan ketombe”.
“Ih!!!”. Ujarku tak terima sembari mengetuk meja.
“Ada apa?”. Tanya Alsan tanpa merasa menyindir.
“Ya sudah, nenek mau bantuin Pak Toto mupuk dan potong rumput”.
“Oke nek”. Jawab Alsan semangat.

Aku masih menatap Alsan kesal dengan tangan mengepal. Alsan kemudian menatapku bingung.
“Ada apa? Mau ngucapin terima kasih?”.
“Terima kasih apanya?”. Jawabku kesal.
“Buat informasi manfaat ubi ungu?”. Tanyanya tanpa merasa bersalah.
Aku hanya menghela nafas kemudian memulai makan.
“Apa soal lidah buaya tadi?”.
Pertanyaan Alsan membuatku memincingkan mataku padanya saat akan memasukkan makanan di mulutku. “Peka juga?”.
“Cowok itu peka sama‚Ķ”.
“Sama?”. Tanyaku sinis saat ucapannya tiba-tiba dihentikan.
“Pokoknya tadi gue udah cuci tangan di kran samping rumah terus gue bersihin lagi pake lidah buaya, kan lidah buaya antibakteri sebelum gue nyentuh rambut loe”.
Seketika wajah kesalku seakan berubah lega, aku menahannya dengan menggigit bibir bawahku agar Alsan tidak tahu.
“Kenapa? Kok mukanya berubah? Mau ngucapin terima kasih? Jangan pakai surat”. Lanjut Alsan kemudian memasukkan makanan di mulutnya.
Aku hanya tersenyum kemudian melanjutkan makan. Setelah kami menyelesaikan sarapan, aku langsung mencuci piring . Saat aku mencuci piring, Alsan terlihat dari kaca bening lemari diatas cuci piring mengambil pena dari atas lemari es kemudian menulis sesuatu diatas kertas yang sengaja disimpan didompetnya. Aku melanjutkan cuci piring saat dia menulis.

“Al gue duluan ya, mau belanja buat hidroponik minggu depan”.
Aku hanya mengangguk kemudian memanggilnya saat di pintu.
“Ada apa?”.
“Terima kasih”. Ujarku lirih.
Alsan hanya tersenyum kemudian pergi.

Setelah selesai cuci piring, aku membalikkan tubuhku dan melihat sebuah kertas digulung dengan pita jingga. Ini pasti dari Alsan. Aku membukanya dan cukup terkejut dengan isinya.

Al, ini permen pengganti kembalian beli pupuk karena gak ada uang receh. Ini buat loe aja, jangan kesel. Maaf, Ratu Rambut Salju hahaha

“Alsan!”. Teriakku kesal. Rambut salju disini pasti ketombe. Surat dia itu tetap saja mengesalkan. Bentuk suratnya tidak beraturan seperti dari potongan-potongan kertas.
Huuuu gak modal!
“Tapi makasih ya buat permennya, emang gue anak kecil apa dikasih permen”. Gumamku.

Aku baru sadar, anak laki-laki yang sering datang ke rumah mengantar pupuk adalah Alsan. Aku tidak begitu mengingatnya karena aku hanya melihat punggungnya ketika datang. Aku pikir dia hanya seseorang yang bekerja di toko, ternyata bukan. Aku berjalan menuju kamar untuk mengambil baju salin kemudian mandi.

¤¤¤¤

“Hai Al!!!”. Teriak Angel saat aku masuk kelas.
Aku hanya tersenyum kemudian menghampirinya untuk duduk disampingnya, diantara Angel dan Putri.
“Oh ya Al, besok minggu kita diajakin Rico buat ikut pemasangan hidroponik itu. Ikut ya?”. Tanya Angel merayuku memegang lenganku.
“Kalau nenek ngizinin ya?’. Jawabku tak ingin memberi harapan palsu.
“Oke deh”. Jawab lemas Angel dan meluruskan tubuh ke depan.

Dosen pun datang. Hari ini aku tidak kuliah bersama Alsan dan Rico karena mata kuliah wajib. Suasana kelas tampak biasa tanpa Alsan dan Rico, tapi tak biasa bagiku yang merasa sepi. Aku lupa dimulai sejak kapan, tapi rasanya yang biasa bertiga tiba-tiba menjadi bertujuh. Hari ini kuliah Pak Sapalu. Pak Sapalu adalah dosen yang hobi bertanya yang tiba-tiba aku ditunjuk.
“Kamu!”.
“Iya Pak”.
Aku pasang tubuh tegakku untuk menunjukkan kesiapanku menjawab pertanyaan walau mungkin aku tidak memiliki jawaban.
“Kamu tau makanan sayuran dengan gizi tertinggi?”.
Aku diam sejenak dan berfikir kemudian menjawab lirih, “Ubi ungu pak?”.
Pak Sapalu hanya tertawa. “Jawabanmu benar jangan ragu. Kalau kamu ragu bagaimana petani akan percaya”.
Aku hanya menghela nafas. Jika salah pasti Pak Sapalu akan marah dengan mahasiswa yang hanya mengandalkan materi kuliah, padahal ilmu bisa di dapatkan lewat berita, buku, dan pengalaman. Begitu katanya.

Aku juga bisa menjawab karena Alsan juga. Sewaktu sarapan bersama dia kemarin, dia tidak hanya mengatakan bahwa ubi ungu baik bagi lambung, tapi juga merupakan tanaman sayuran dengan gizi tertinggi. Ada yang ketinggalan, tentunya kaya vitamin. Alsan juga bilang, ilmu tidak hanya didapat dari dosen tapi juga pengalaman dan rasa ingin tahu tentang pengetahuan. Aku pikir kuliah memang tidak hanya sekedar kuliah.

Jam kuliah berakhir dengan tugas dari Pak Sapalu karena sebagian tidak bisa menjawab pertanyaan Pak Sapalu yang rata-rata pertanyaan umum.
“Ayok Al ke kosan nunggu jam kuliah sore”. Ajak Angel sembari berdiri.
“Loe gak ke sekret?”. Tanya Putri.
“Gak. Gue mau menyelesaikan proposal dari Alsan, kemarin kan dia ngasih kasarnya aja”.
“Oke deh ayok”. Ujarku.

Kami berjalan bersama menuju parkiran kemudian kami berpisah. Aku dan Angel naik angkot, sedangkan Putri dengan sepeda motornya. Setelah sampai kosan, aku merebahkan tubuhku di kamar Angel. Angel langsung menghidupkan laptop dan bersiap-siap untuk menggarap proposal. Aku hanya membaca novel dan Putri sedang sibuk dikamarnya, mungkin sedang menonton drama korea.

Tiba-tiba Angel berteriak kesal.
“AHHHHH!!! Mati lampu!!!!”.
“Ada apa Ngel?”. Tanyaku bingung.
“Ini mati lampu, gue ini ngetik lepas baterai pasti gak ke save. Ahhh!!! Padahal udah mau selesai”.

Lampu kemudian tiba-tiba hidup kembali.
“Gue curiga”. Gumam Angel.
“Curiga kenapa?”. Tanyaku sembari duduk.
“Ini pasti bukan mati lampu”.
Angel keluar dengan wajah kesalnya dan menuju kamar samping, tepatnya kamar Putri.
“Putri!!!”. Teriak Angel kembali yang membuatku menghampirinya.
Aku begitu terkejut melihat Putri sedang mempraktekkan video paralon yang dia lihat kemarin untuk pengering baju. Aku yakin listrik mati karena tidak mampu menahan daya hair dryer yang dia pasang agar panas yang dikeluarkan tersalurkan dari lubang-lubang paralon yang dirangkai berdiri.
“Maaf Angel”. Ujar Putri sembari meringis.
“Gue lagi ngerjain proposal dan lepas baterai”.
“Nanti gue temenin ngerjain”.
“Kalau bukan temen aja”. Ujar Angel sembari menggigit bawah bibirnya.

Aku hanya mengusap lembut lengannya untuk menenangkannya. Begitu Putri, rasa ingin tahunya tinggi. Putri memeluk manja Angel. Angel hanya diam menahan rasa kesalnya, pada akhirnya rasa kesal Angel luluh saat Putri terus menggodanya. Aku hanya tertawa menyaksikan mereka saling lempar godaan tentang keanehan Putri, tentunya Putri terus membela diri.

%d bloggers like this: