Catatan Akhir Kuliah – Part 6

Pagi ini cuaca sangat cerah, sesekali cahaya matahari sengaja memancarkan sinarnya diwajahku yang sedang menjemur pakaian di belakang rumah untuk memberi secercak vitaminnya untuk aura wajahku yang gelap agar lebih cerah dan nyaman dipandangi. Aku menjemur pakaian ditemani suara Pak Toto bernyanyi sembari memangkas tanaman pucuk merah.

Gundul gundul pacul cul… gembelengan
Nyunggi nyunggi wakul kul… gembelengan
Wakul ngglimpang segane dadi sak latar
Wakul ngglimpang segane dadi sak latar

“Pak Toto mentang-mentang lagi mangkas lagunya gundul-gundul pacul”.
“Ini bukan masalah tentang memangkas Mbak Al, tapi ada maknanya, apalagi sekarang banyak koruptor”.
“Maknanya apa pak? Kalau bawa nasi hati-hati? tapi apa hubungannya sama koruptor?”.
“Nah anak jaman sekarang seperti ini, mereka belajar teori tanpa mengetahui filosofi”. Ujar Pak Toto berhenti memangkas.
“Maksudnya pak?”. Tanyaku membalikkan tubuh ke arah Pak Toto.
“Lagu Gundul-Gundul Pacul itu dimaksudkan bagi pemimpin yang tidak amanah Mbak Al. Gundul itu kan kepala botak tanpa rambut yang artinya kalau kepala itu suatu kehormatan, sedangkan rambut itu mahkota. Jadi gundul itu kehormatan tanpa mahkota bukan raja atau bisa dibilang wakil rakyat. Kalau pacul itu artinya rakyat kecil karena pacul alat pertanian petani, sedangkan gembelengan artinya sombong. Jadi apa Mbak Al?”.
“Jadi gundul-gundul pacul gembelengan itu seseorang pemimpin yang yang dipercaya oleh rakyat kecil untuk mensejahterakannya tapi malah tidak amanah”.
“Itu benar Mbak Al”. Ujar Pak Toto senang karena aku mengerti.
“Hmmm aku baru tau”.
“Makanya Mbak Al itu jangan cuma tau, tapi juga cari tau apa filosofinya. Itu penting Mbak Al”.
“Oke deh Pak Toto”. Jawabku sembari mengangkat jempol tanganku.

Aku kembali menjemur pakaian, tiba-tiba ada suara klakson mobil datang. Pak Toto membukakan pintu gerbang. Ternyata yang datang Angel, Putri, dan Rico.
“Al!!!! Kok belum siap-siap?”. Teriak Angel dan Putri saat menghampiriku, sedangkan Rico hanya senyum padaku. Nenek kemudian keluar dari pintu belakang.
“Wah ada Angel sama Putri”.
“Nenek!!!”. Teriak Angel dan Putri langsung menghampiri nenek kemudian salim yang disusul Rico.

“Loh ini siapa?”. Tanya nenek memandangi Rico.
“Rico”. Jawab Rico sembari tersenyum.
“Ini pacarmu Al?”.
“Bukan nenek”. Jawabku cepat.
“Syukur deh”.
“Loh? Kenapa nek?”. Tanya Putri.
“Kayaknya orangnya ngeselin”.

Angel langsung tertawa dengan girangnya, Rico hanya diam terpaku dengan perkataan nenek. Aku dan Putri hanya tersenyum tipis karena merasa kasihan dengan Rico.
“Cuma bercanda ya nak”. Lanjut nenek sembari menepuk pundak Rico.
“Iya nek gak apa-apa”.
“Tapi emang ngeselin kok nek”. Sanggah Angel dengan nada ketawanya.
Rico hanya bisa diam, aku yakin jika bukan didepan nenek pasti Rico sudah menjitak Angel.

“Ini ada apa? Kok pagi-pagi kesini?”. Tanya nenek membuat suasana hening sejenak.
Rico memulai pembicaraan, Rico meminta izin pada nenek untuk membawaku pergi ikut pemasangan hidroponik di Desa Kembang. Sejenak nenek berpikir sembari tangan kanan memegang dagunya yang tidak panjang. Aku pikir tidak akan diberi izin karena pasti akan sampai sore, tapi ternyata nenek memberikan izin. Kami semua langsung tersenyum girang.
“Tapi Al belum selesai beres-beres”. Keluh nenek.
“Tenang saja nek, kami yang beres-beres terus Al mandi”. Jawab Angel.
“Tapi kalian sudah wangi dan rapih?”.
“Tenang nek, lagipula sampai sana juga bakal kotoran lagi”. Sanggah Putri.
“Baiklah”. Ujar nenek kemudian pergi menyusul Pak Toto untuk bersih-bersih.
“Terima kasih nenek”. Jawab kami kompak dan nenek hanya tersenyum.
“Sana Al mandi”. Perintah Putri dan aku hanya mengangguk lalu bergegas untuk mandi.

Putri langsung melanjutkan menjemur pakaian, Angel menyapu rumah, dan Rico mencuci piring. Setelah semua beres dan aku sudah siap. Kami berpamitan dengan nenek dan Pak Toto. Aku masih melihat wajah cemas nenek yang ditahan, namun ia berusaha tetap senyum mengingat mungkin umurku bukan anak-anak lagi.
“Al, jaga diri ya”. Ujar nenek menggenggam kedua tanganku.
“Tenang nek ada kita”. Ucap Putri dan Angel berdiri disampingku.
Kami pun salin dengan nenek dan memasuki mobil, nenek masih berdiri depan pintu gerbang sampai aku tidak bisa melihatnya saat sudah keluar pintu gang.

“Yang lain pada kemana?”. Tanyaku.
“Udah duluan Al”. Jawab Putri.
“Oh ya Co, ini gak apa-apa loe jemputin anak cewek? Si Delia gak cemburu?”. Tanya Angel pada Rico yang duduk disebelahnya.
“Delia gak cemburu selama gak tau”. Jawab Rico sembari menyetir.
“Yaelah, ini namanya cemburu. Gue males kalau tiba-tiba cewek loe ngehubungi gue disangka godain loe”.
“Tenang aja, gue bilangnya di mobil cowok semua”.
Angel hanya mengangguk

“Kenapa sih Co si Delia cemburuan banget, padahal juga gak ada yang mau sama loe kecuali dia”. Ujar Putri.
“Kalian kan tau dia cinta mati sama gue HAHAHA”.
“Cinta mati sama terlalu obsesi itu beda”.
“Biarin aja loh selama dia setia sama gue”.
“Temen-temen loe risih tapi Co”. Gumam Angel.
“Selama Delia tidak berkata kasar atau bermain fisik, aku pikir kita harus memakluminya”. Ucapku.
“Tuh dengerin si Al, temen SMA Delia”. Jawab Rico.
“Si Al temen SMA Delia tapi Delia gak pernah anggep Al”. Keluh Angel.

Rico hanya diam dilanjutkan oleh kami. Aku merasa selalu ada yang aneh dengan Delia, bukan seperti tidak menyukaiku tapi ada yang salah. Kami menikmati kembali perjalanan sembari bernyanyi bersama, kumpulan Lagu Sheila On 7 menemani kami sampai di Desa Kembang. Disana sudah ramai anak-anak yang lain termasuk anak hima (himpunan mahasiswa) yang diajak Rico untuk ikut membantu. Kami turun dari mobil, Andi dan Genta langsung menghampiri kami. Aku melihat kanan kiri tidak melihat Alsan, ternyata Alsan berada di sudut lain bersama Rahma. Mereka sedang berbincang begitu asiknya.

“Indra mana Co?”. Tanya Andi.
“Tadi udah gue telepon, katanya bareng mobil Anwar”.
“Ada Indra?”. Tanyaku pada Putri.
“Iya ada Indra kan satu progja”.
“Bukan Rahma?”. Tanya Angel.
“Ya bukan Ngel, Rahma kan anak hima jadi ikut bantu aja”.

Aku pikir anggota kelima pembuatan proposal adalah Rahma, selain Alsan, Rico, Andi, dan Genta. Aku tidak melihat Indra selama pengerjaan proposal, justru Rahma yang terlihat terus membantu. Mungkin Indra membantu saat aku tidak melihat.

Kami melakukan penyambutan terlebih dahulu sebelum memulai acara, yaitu penyambutan dari dosen penanggung jawab yaitu Ibu Dewi. Setelah selesai penyambutan, kami berdoa bersama kemudian acara inti dibuka oleh Pak Mito selaku kepala desa. Ibu Dewi pamit pulang setelah penyambutan karena ada urusan lain untuk dihadiri.
“Rico, nanti waktu panen ibu disini seharian”. Ujar Bu Dewi kemudian meninggalkan acara.
“Iya bu”. Jawab Rico, kemudian Genta mengantarkan Ibu Dewi ke mobil.

“Selamat pagi bapak ibu sekalian, saya senang sekali karena bapak ibu dapat hadir dalam acara sederhana ini untuk meningkatkan minat bapak ibu dalam praktik hidroponik sebagai langkah hemat ibu-ibu untuk tidak berbelanja sayur cukup jauh mengingat jarak desa dengan pasar, tanaman sayuran organik ini memiliki vitamin lebih terjamin, dan pemandangan hijau oleh hidroponik pada lingkungan rumah menambah keasrian. Tak perlu panjang lebar saya berbicara, nanti saya dan rekan-rekan akan membantu memandu dari masing-masing keluarga yang sudah dibagikan kelompok. Hidroponik kali ini kita akan menanam tiga benih sayuran yang berbeda yaitu kangkung, bayam dan sawi, baik mari langsung saja kita mulai”. Ujar Rico.

Kami membuat tempat hidroponik dari batang pisang yang kami langsung manfaatkan dari desa dan kami juga membawa paralon yang sudah dilubangi di kampus. Batang pisang dan paralon yang sudah dilubangi kemudian disusun dan dimasukkan gelas-gelas yang berisi media tanam. Media tanam yang kami gunakan adalah sekam bakar dan nantinya hidroponik ini akan dipasang di salah satu kebun kosong milik warga yaitu Pak Mito. Aku sangat senang melihat antusias para warga yang bersama-sama membuat hidroponik ini.

“Wah rasanya senang sekali jika ada mahasiswa bisa membagi ilmu dan membantu seperti ini”. Ujar salah satu ibu.
“Kemarin terakhir yang kesini adalah mahasiswa hukum. Mereka sosialisai tentang peraturan lalu lintas yang baru, terutama tentang menghidupkan lampu motor terus walau siang hari. Jadi, kami para warga desa mau datang ke kota kan tidak kena tilang kalau ada sosialisasi”. Ujar salah satu ibu lainnya yang membuat kami tertawa.

“Adik ini sudah punya pacar? Ibu punya anak perempuan dirumah cantik”. Tanya seorang ibu kepada Alsan yang sedang menyiapkan media tanam yang dirasa kurang. Alsan hanya tersenyum.
“Oh pasti orang ganteng sudah punya pacar, tapi kalau cewek cantik belum tentu punya pacar”. Jawab ibu tersebut dan semua ibu-ibu tertawa.

Aku, Angel, dan Putri saling bertatapan. Aku memang tidak cantik cuma merasa tersindir hahaha

Kelompokku ada Alsan, Angel, dan Putri. Kebetulan kelompok kami diikuti ibu-ibu semua.
“Ibu, Alsan mau tanya, produksi sayuran disini bagaimana?”. Tanya Alsan.
“Disini dulu kami sering pakai pestisida berlebihan untuk menutupi kerugian karena harga semakin mahal tapi sosialisasi terus berdatangan hingga akhirnya kami sadar pentingnya kualitas daripada kuantitas walau masih ada satu atau dua warga yang masih kokoh menggunakan pestisida berlebihan”. Ujar salah satu ibu dengan nada sedih.
“Semoga dengan hidroponik ini, desa semakin maju ya bu”. Ujar Putri tersenyum sembari menatap mereka dan mereka tersenyum sembari berkata. “Aamiin”.

Aku senang sekali melihat ketulusan mereka, saat aku sedang menikmati rasa senyumku tiba-tiba aku tak sengaja bertabrakan mata dengan Alsan. Senyum Alsan penuh arti menatapku dan aku hanya memincingkan mataku kemudian Alsan balik memincingkan matanya padaku.

Dasar laki-laki aneh..

Saat kami sedang bertatapan tiba-tiba ponsel Alsan berdering dan ia langsung meminggirkan diri menjauh dari kami untuk mengangkat telfon. Saat Alsan kembali lagi, suara notifikasi pesan ponselku berbunyi bersamaan dengan suara notifikasi yang lain serekan mahasiswa yang ternyata pemberitahuan Rahma di grup.

Aku masak mie sama nasi kalau kalian belum sarapan, tempatnya di belakang balai desa.

Pesan dari Rahma ditanggapi bahagia oleh anak-anak di grup, akhirnya kami bergantian untuk makan. Aku, Putri, Angel, dan Andi berjalan menuju belakang balai yang pas berdampingan dengan rumah warga yang memperkenankan untuk memasak, sedangkan Alsan menuju dapur rumah sebelah balai desa. Kami mengambil nasi sendiri-sendiri lalu mengambil mie kecuali aku yang tidak makan mie. Sekarang aku tahu bahwa yang menelfon Alsan adalah Rahma.

“Makan ini aja”. Alsan menghampiriku dan memberi telur goreng saat anak-anak sibuk mengambil mie.
“Makasih”. Ujarku yang dibalas acuh oleh Alsan yang kemudian berbaris mengambil mie. Aku pun menyingkir dan duduk di teras belakang yang disusul oleh Angel dan Putri.

“Kok Al ada telur goreng?”. Tanya Angel.
“Al gak bisa makan mie instan kalau belum nasi paginya nanti sakit perut, terus kita yang dimarahin nenek”. Sahut Putri.
“Terus dapetnya darimana?”. Tanya Angel kembali.
“Alsan yang gorengin tadi”. Sanggah Genta datang menghampiri.
“Tau darimana Si Al belum sarapan”. Pikir Angel.
“Itulah sense of feeling”. Sahut Rico.
“Maksudnya?”. Tanya Angel kembali.
“Udah sih makan, berisik aja lu”. Ujar Rico.
“Lu itu berisik!”. Jawab Angel.
“Kalian mau makan apa gue usir?”. Tanya Genta serius.
“Lu siapa?”. Tanya kompak kami.
“Ya enggaklah canda”. Jawab Genta yang membuat kami tertawa.

Alsan dan Rahma datang menghampiri kami dengan sebungkus kerupuk dan disambut bahagia oleh kami. Aku merasa Alsan dan Rahma memang serasi, selain rupawan juga sama-sama memiliki otak cerdas.

“Kenapa Al?”. Tanya Angel padaku yang membuatku bingung menatapnya.
“Tadi lu senyum-senyum sendiri kenapa?”. Tanya Angel kembali yang membuat semua orang menatapku.
“Tuh kan pasti gak fokus, apa sakit? Gue beliin air mineral ya?”. Cerca Angel yang membuatku hanya menampakkan barisan gigi.
“Gak apa-apa Ngel”. Jawabku.
“Kalau sakit bilang Al”. Ujar Putri.
“Sakit kok senyum”. Jawabku.
“Sakit jiwa”. Sahut Andi dan Putri menyikut lengan Andi.
“Aku enggak apa-apa, aku cuma merasa bahagia punya kalian”.
“Uluh-uluh”. Jawab anak-anak dan kami melanjutkan makan.

Kami kembali ke kebun dan melanjutkan misi.
“Biasanya kalau kayak gini ada yang modus jualan”. Goda Andi menyindir Indra dan Indra hanya tertawa.
“Palingan bentar lagi buka lapak”. Sanggah Rico.
“Buka lapak gimana dek?”. Tanya salah satu seorang ibu.
“Teman kami ada yang jualan gorengan bu, jadi kalau lagi praktikum gini biasanya dia menjajakannya”. Jawab Rico.
“Ngapain kuliah kalau jualan gorengan”. Goda salah satu ibu dan semua tertawa.
“Karena uang jualan bisa beli makan sehari-hari bude”. Sanggah Genta.
“Wooo hebat dong mandiri tidak menyusahkan orang tua beda sama Genta”.
Semua orang tertawa dan Genta hanya diam yang langsung membuat kami kompak. “Yaaaa enggaklah canda”.
Genta pun tertawa.

“Genta saja jadi mantu ibu kan enak kalau hajatannya deketan hahaha”.
“Boleh bu asal cantik”.
“Cantik kalau kamu bawa ke salon”.
Sontak kami semua tertawa.

“Sudah…sudah… wes pada tuo kok godai yang masih muda. Kasihan toh”. Sapa Pak Mito.
“Daripada yang muda godain yang tua nanti Pak Mito bingung kayak Raffi Ahmad”. Sanggah Ibu lainnya dan kami semua kembali tertawa.

Suasana siang ini memang pecah dengan penuh candaan walau kami digoda terus terutama anak laki-laki, tapi kami senang karena warga sangat ramah. Popularitas laki-laki memang lebih tahan lama, semakin mereka dewasa semakin mereka mempesona. Jika perempuan, semakin dewasa perempuan maka semakin harus cepat-cepat cari jodoh.

Saat sedang sibuk membuat rangkaian hidroponik, Alsan menghampiriku.
“Ini”. Ujar Alsan sembari memberikan topi yang dikeluarkan dari saku celananya.
“Buat apa?”.
“Loe gak bawa ikat rambut kan? Loe ikat rambut loe di topi ini, kan ada ruang dibelakangnya buat rambut loe biar gak berantakan”. Ujarnya sembari menunjuk penjapit topi belakang.
“Emang kalau berantakan kenapa?”.
“Kalau gak cantik setidaknya harus rapih”.
“Alsan!!!”. Teriakku membuat Alsan terkejut termasuk semua orang disekitarku.

“Maaf”. Ujarku.
“Gue beliin air mineral ya Al?”. Tawar Angel.
“Enggak Ngel”. Jawabku dan semua orang kembali beraktivitas.

Aku pikir akhir-akhir ini aku sering meninggikan nada suaraku karena Alsan, kebiasaan yang bukan diriku sekali sebenarnya. Aku menarik seluruh rambutku dan aku masukkan pada lubang topi.

Kami duduk sebentar setelah selesai membuat hidroponik bersama warga.
“Ternyata sayuran bisa ditanam begini juga”. UJar Pak Mito.
“Ini salah satu teknologi pertanian sekarang pak, sebagai modifikasi menghemat tempat namun masih memberikan pertumbuhan sayur yang bagus”. Jawab Rico.
“Bapak pikir kuliah pertanian cuma nyangkul doang”. Sahut salah satu warga.
“Bapak nantinya akan banyak mengetahui tentang teknologi pertanian sekarang melalui Genta”.
Genta tersenyum dengan lebar.

Rahma keluar dari balai desa dan berteriak. “Ayok semua makan”.
“Ayooook”. Teriak Andi semangat.
“Just so so”. Sahut Putri dan Andi hanya memincingkan matanya.

“Baik bapak ibu sekalian, saya meminta tolong untuk sering menyiramnya dan kami akan sering menengok walau tidak setiap hari, terima kasih atas kerjasamanya”. Ujar Rico.
“Siap Mas Rico”. Teriak para warga yang dibalas tawa oleh kami dengan tepuk tangan.

Kami semua berdiri dan masuk balai desa. Rahma bersama ibu-ibu lainnya sudah menyiapkan jajaran daun pisang yang diatasnya sudah ada nasi liwet. Liwet adalah tradisi makan besar untuk daerah Jawa. Angel dengan semangatnya berteriak. “Asiiik makaan!!!”. Semua langsung tertawa.

Nasi liwet adalah nasi gurih yang dimasak dengan air perasan kelapa menjadi makanan tradisional yang disajikan diatas daun pisang. Suwiran ayam dan sambal menjadi kenikmatan dalam makanan ini.

Aku melepaskan topiku karena salah seorang ibu memberikan aku karet gelang untuk mengikat rambutku lalu aku kaitkan topinya di tempat ikat pinggang celana jeans bagian kananku. Aku duduk berdampingan dengan Angel dan Putri. Alsan berada didepanku dengan Rahma berada disampingnya. Sebelum makan, kami berdoa bersama yang dipandu oleh Andi. Setelah doa, kami dan semua warga langsung makan. Selama makan, kami selalu bercanda dan tertawa bersama warga, Angel dengan senangnya langsung menyantap makanan.
“Aku benar-benar menyukai makan besar seperti ini rasanya nyatu banget”. Ujar Angel sembari mengunyah.
“Kalo gitu adik-adik harus sering main kesini”. Ujar Pak Mito sambil tersenyum. Kami langsung tersenyum mendengarnya.
“Siap pak”. Ujar Angel kemudian melanjutkan makan.

Anak laki-laki dengan hebohnya berebut sambal dan lalapan selada dengan gaya mereka yang seperti anak kecil. Benar kata orang, umur boleh bertambah tapi sifat kekanakan akan tetap hidup saat kumpul bersama teman-teman.

Selesai makan, kami anak perempuan ikut membereskan daun pisang, dan mencuci peralatan masak di belakang balai desa. Setelah selesai beres-beres, kami menyusul anak laki-laki yang sedang berhela-hela di dalam balai desa sembari bercanda dengan bapak-bapak.
“Oh ya adik-adik ini, nanti kalau jadi pemimpin yang amanah”. Ujar Pak Mito.
“Jangan gundul-gundul pacul”. Ujar bapak lainnya kemudian mereka tertawa dan aku ikut tertawa.
“Nah kayaknya cuma adik ini yang tau maksud Bapak Ridho, soalnya yang lainnya ketawanya gak ikhlas”. Ujar Pak Mito menatapku.
“Apa coba dek maksudnya?”. Tanya Pak Ridho padaku.
Aku menjelaskan makna gundul-gundul pacul sesuai penjelasan Pak Toto tadi pagi.
“Jadi kalau korupsi itu seharusnya digundul bukan penjara”. Ujar Pak Ridho sembari tertawa dan kami semua kembali tertawa.
“Digiring ya pak sembari bawa cangkul dan bakul nasi”. Sanggah Rico.
“Nah itu bener, harusnya gantiin petani aja secara gratis yang udah banting tulang demi sebutir beras”. Jawab Pak Ridho.
“Tapi adik tadi cuma menjelaskan bagian depannya, belakangnya bagaimana?”. Tanya Pak Mito padaku dan aku hanya terdiam karena aku hanya tahu bagian depan saja.
“Nyungi wakul gembelengan itu artinya pemimpin yang diberikan amanah malah bersikap sombong sehingga pengertian Wakul ngglimpang segane dadi sak latar itu sikapnya yang sombong membuat rakyat kecewa karena tidak bisa memegang amanah dengan baik”. Sanggah Alsan yang membuat kami semua menatapnya.

Pak Mito dan bapak-bapak yang lainnya tersenyum. “Bapak senang jaman sekarang masih ada anak muda yang masih tau tentang filosofi budaya sendiri. Bapak harap kalian semua calon pemimpin dapat menjadi pemimpin yang amanah”.
“Aamiin”. Jawab kami semua kompak.
“Ngomong-ngomong, Indra mana ya?”. Tanya Angel.
“Itu bukan?”. Jawab salah seorang bapak yang menunjuk saung yang berada di luar.
“Ya Allah Indra, emang gak bisa liat lapak kosong. Saat kayak gini sempat-sempatnya dagang”. Ujar Putri.
Kami semua hanya tertawa. Indra sedang sibuk bersama ibu-ibu untuk menjajakan tahu baksonya, semua ibu-ibu sangat senang dan sesekali tertawa bersama Indra.
“Kayaknya bagus ya pak kalau kita jadikan tahu bakso sebagai salah satu program ekonomi pedesaan”. Ujar Pak Ridho pada Pak Mito, dan Pak Mito setuju.

Setelah sudah hampir dua jam berbincang, akhirnya kami pamit pulang dan tahu bakso Indra laris manis. Saat aku akan masuk mobil Rico, tiba-tiba Putri menyuruhku pulang bersama Alsan karena hari ini jadwal kami menyiram. Aku dan Andi bertukar tempat, aku bersama Alsan sedangkan Andi naik mobil Rico.

Aku bersyukur bisa bersama dengan teman-temanku hari ini, baru kali ini memanfaatkan hari libur dengan baik. Aku pikir hidupku memang hanya terbuang untuk hal tidak penting, aku mengerti bagaimana nenek begitu mencintai tanaman sampai rela kotor dan panasan. Indahnya pemandangan kebun di rumah tak pernah aku sadari sebuah nikmat tak semua orang miliki, alam pedesaan yang sedang aku lewati sekarang adalah nikmat lain yang tiada tara sejuknya dalam pikiran dan perasaan aku sekarang. Aku bersyukur memiliki teman-teman yang memperkenalkan aku pada dunia pertanian yang seharusnya lebih aku kenal dari sekedar dunia kampusku sekarang.

“Kenapa senyum-senyum sendiri?”. Tanya Alsan saat kami diatas motor melihat dari spion motor.
“Gak apa-apa”. Jawabku acuh.
“Ngeselin”.
“Kamu itu”. Jawabku tak terima.

Aku dan Alsan sampai rumah sebelum maghrib. Aku turun dari motor sembari menyerahkan helm pada Alsan dan aku memberikan sebuah surat.
“Apa ini? Ucapan terima kasih?”.
“Bukan”.
“Lalu?”.
“Buka saja sampai rumah”.
“Baiklah. Kalau gitu aku pulang, salam buat nenek”.
Aku hanya mengangguk kemudian Alsan pergi.

Aku baru sampai kamar, ponselku berbunyi tanda pesan ternyata dari Alsan.
Alsan : hmmm…

Aku hanya tertawa karena itu memang hanya sekedar ucapan terima kasih. Lagi dan lagi, dia membaca sebelum sampai rumah karena belum lama dia pamit pulang. Aku hanya membaca pesannya kemudian bergegas mandi.
Semenjak aku mengenal Alsan, sekarang kemana-mana aku membawa notebook seukuran genggaman tangan beserta pena.

Terima kasih telah datang dan membawa diriku lebih hidup. Kamu menjadi salah satu alasanku untuk lebih bersemangat dari setiap pagiku sekarang.

¤¤¤¤

Setiap hari di kampus, kami masih disibukkan dengan praktikum dan laporan. Aku sedang bersantai di bawah pohon beringin, lalu menyadarkan kepalaku di pohon menatap langit yang seperti lukisan di atas kanvas biru, teriknya matahari membuat dahiku berkerut dan penglihatanku semakin tipis, kemudian Rico datang dihadapanku memberi gelap akan cahaya yang baru saja menyinariku.
“Hari yang cerah ya Al?”.
“Hari ini memang cerah”. Jawabku tersenyum menatap langit. “Dari mana Co?”. Tanyaku kembali menatap Rico dan Rico ikut duduk bersandar disampingku.
“Gue habis pendaftaran duta, gimana progja di Kembang, lancar kan? Maaf yaa gue masih sibuk di Hima jadi gak bisa ikut nengokin, bentar lagi fakultas kita kan ulang tahun”. Ujar Rico lirih.

Aku tegakkan tubuhku. “Kamu jangan ngomong gitu, kan aku cuma pelengkap”.
“Kamu lebih dari pelengkap bagi seseorang di progja kita”. Ujar Rico sembari menyilangkan tangan di belakang kepala.
“Maksudnya?”. Tanyaku menatap Rico dan Rico hanya diam sembari memejamkan matanya.

Andi, Genta dan Putri datang lalu duduk disampingku.
“Ada apa nih?”. Tanya Putri.
Aku dan Rico kompak menjawab sambil menatap Putri. “Mau tau aja apa mau tau banget?”.
Kami langsung tertawa dan Putri hanya mengerucutkan bibirnya.
“Indra!!! Tahu baksonya”. Teriakku pada Indra yang datang menghampiri kami dan membukakan dagangannya. Aku menegakkan tubuhku dan menawarkan pada yang lain.

“Indra, kenapa loe gak buat Proposal PKM?”. Tanya Rico sambil menegakkan badan.
“PKM iku opo yo Co?”. Tanya Indra.
“PKM itu Program Kreativitas Mahasiswa, jadi nantinya loe bisa dapet dana dari kampus dan ngembangin usaha tahu bakso loe, daripada loe kuliah bawain kotak makanan kan berat nanti capek dan waktu kuliah malah tidur, mendingan buka stand sendiri di kantin”. Ujar Andi sembari memakan gorengan.
“Wah tapi aku ora iso gawe Proposal PKM”.
“Tenang aja Dra, gue ada contoh proposalnya entar gue kirim file di email loe”. Ujar Rico sambil melingkarkan lengan di pundak Indra.
“Wah makasih banget loh ini, bener kata orang kalian ini otaknya encer makanya gak ada habisnya buat karya. Suwon ya jadiin aku bagian program hidroponik kalian”.
“Selaw lur, kayak baru kenal kemarin”.

Yaps benar! Program hidroponik Alsan dan kawan-kawan bukan pertama kalinya, sebelumnya mereka senang membuat tulisan mading dan program pembuatan pupuk kompos melalui sampah daun di sekitar kampus. Aku juga baru mengetahuinya setelah Putri bercerita waktu pertama kali aku bertemu Alsan.
“Oh iya, Alsan dan Angel mana?”. Tanya Indra.
“Mereka lagi mempersiapkan acara buat tampil di SD minggu besok”. Jawab Putri.
“Kita gak bantuin?”. Tanya Genta.
“Kata Alsan datang pas hari H aja”. Sanggah Rico.
Kami kembali bersantai sembari menikmati tahu bakso Indra dengan cabai rawit.

%d bloggers like this: