Rindu – 2

Kau hanya bisa menahan nafas ketika dadamu terasa sesak, memori kebersamaan itu tak akan pernah bisa pudar dalam sekejap, luka itu terus membekas bahkan sampai bertahun-tahun. Sesuatu yang tidak bisa diceritakan kepada siapapun, perasaan yang terus ingin meledak namun hanya terbakar di batin.

Air mata tak akan cukup mengobati bahkan melegakan, teriakan tak mampu menghempas bahkan menghapus, melarikan diri tak akan mampu melupakan bahkan hilang ingatan, dan aku masih terdiam dengan gemaris senyumku yang tak pernah cerah lagi.

Aku merindukan sosok itu, sesosok yang seperti pelindung dan penjaga. Tak ada yang bisa memperlakukan aku sebaik itu, bahkan mungkin lelaki pilihanku kelak. Aku hanya ingin sedikit berbagi cerita lewat tulisanku bagaimana aku masih belum bisa lupa. Ini hanya bagian memori sederhana namun sangat berkesan dalam.

Setiap hari raya, biasanya sesosok itu selalu menyambut senyum sumringah. Kini senyum itu sudah tidak ada, hari rayaku sekarang hanya aku syukuri bukan menyenangkan seperti dulu. Saat melakukan ibadah, aku pun berpaling dari Tuhan, wajah sesosok itu yang terniang dengan kehangatannya bukannya dosa yang harusnya menghantui aku.

“Buat daging panggang ini pasti enak dengan saus tiram”. Kata-kata andalan yang selalu terlontar saat hari raya oleh sesosok itu.

15 tahun sudah aku bersamanya dan itu bukan waktu singkat. Pecel Lele yang akan selalu menjadi sejarah, masa-masa sekolah yang akan selalu teringat. Aku akan memulai ceritaku mungkin secara berantakan, aku tak akan menceritakan secara detail dan teratur per tulisan.

Setiap aku sedang menulis artinya aku sedang berada dalam ingatan memori itu, dimana aku ingin mengenangnya dan membaginya bagaimana berharganya setiap detik bersama orang yang kita sayang. Jangan berharap banyak tentang cerita, maka ambil yang baik dan jadikan pelajaran yang buruk.

Hargai aku yang tak pandai berkata melalui lisan. Kadang diam adalah hal terbaik dari hal yang sulit dijelaskan, ketika sesuatu hal hanya bisa dipendam sendiri bukan berrati kuat, hanya saja tak semua harus diceritakan. Kini sudah waktunya aku bercerita melalui tulisan.

%d bloggers like this: