Batas

Pikiranku sedang tak nyaman..
Duduk di teras memandangi awan..
Jalanan pun tak ada kegiatan..
Sesekali lewat anak bersepedahan..

Setangkai mawar putih aku genggam..
Hasil petik buket bunga putri semalam..
Ia dapatkan dari kekasihnya yg pendiam..
Dan berwajah kelam..

Aku kayuh sepeda sampai ke kampus membawa mawar putih di keranjang..
Akan ku persembahkan pada dia yang menyapa hatiku lebih dulu..
Jiwaku sedang berkoar..
Padanya yang aku kagumi..

Aku beri kau mawar satu dan jadi satu-satunya..
Cukup satu sudah memenuhi semestaku yang sepi..
Jika bunga merona itu ada masa layunya..
Maka tidak dengan perasaanku..

Seribu malam aku persiapkan..
Demi menyapanya lebih dahulu..
Berharap terbalas dengan senyum..
Senyum yang selalu ada untuk semua..

Langkah kakiku lebih bebas saat sampai kampus..
Seakan alam memberi ruang gerak..
Mataku berbinar..
Seolah aura keabuanku pudar..

Namun..
Mata berbinarku pudar seketika..
Mawar putihku jatuh..
Durinya melukaiku sampai jiwa..
Saat aku sampai depan kelas kuliah..

Aku terlalu percaya diri..
Ia yang aku kagumi..
Hatinya sudah ada yang menemani..
Kekagumanku menjadi api untukku..

Seseorang membelai wajahnya dengan lembut..
Ia menerima dengan nyaman..
Mereka beradu senyum..
Seolah cinta sedang bertebangan..

Aku hanya kagum..
Bukan sebuah kesalahan..
Sebuah perasaan penghargaan..
Ini akan salah bila aku jatuh cinta..

Aku masih terpatung..
Mawar putihku terinjak oleh kaki yang lain..
Ia hancur sama dengan pertahananku..
Aku yang melebihi batas..

Batas yang tak bisa aku patahkan..
Batas yang harus aku pertahankan..
Batas yang tak membawa jiwaku ke alam lain..
Batas itu adalah kagum..

Jika kagumku sebatas jarak..
Jika diamku sebatas senyum..
Jika inginku sebatas melihat..
Maka izinkan aku sebatas mengagumi..

%d bloggers like this: